PRIORITAS, 8/10/25 (London): Peluru kendali (rudal) Tomahawk Amerika Serikat yang bakal dipasok ke militer Ukraina, dapat dapat menghancurkan pertahanan Rusia. Ini diharapkan dapat mengubah perang Rusia dan Ukraina, yang kemungkinan bisa menuju perdamaian.
Menurut Army Recognition, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari United24media, hari Rabu (8/10/25), Tomahawk Land Attack Missiles (TLAM) atau Rudal Serang Darat Tomahawk, adalah salah satu sistem serangan jarak jauh paling presisi dan serbaguna saat ini.
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada hari Senin ia telah “membuat keputusan” mengenai pasokan Tomahawk ke Ukraina.
Rudal Tomahawk memiliki jangkauan 2.500 km (1.550 mil), sehingga Ukraina dapat menggunakannya untuk menyerang target militer Rusia bernilai tinggi, sambil terbang di ketinggian rendah yang menghindari deteksi radar.
Bagi Ukraina, ini berarti kemampuan untuk menyerang pangkalan udara Rusia, pusat logistik, dan pos komando jauh dari garis depan. Itu target yang sebelumnya dianggap Ukraina berada di luar jangkauan,
Ukraina saat ini bergantung pada rudal jelajah yang dipasok Barat seperti sistem senjata Storm Shadow atau ATACMS, yang hanya memiliki jangkauan sekitar 250 kilometer.

Para perencana AS dan Pakta Pertahanan Atalantik Utara (NATO) kini sedang mempersiapkan platform peluncuran berbasis darat yang kompatibel.
Platform ini kemungkinan akan mencakup Sistem Peluncuran Vertikal Mk 41 yang dimodifikasi atau versi darat bergerak yang berasal dari program rudal Typhon Angkatan Darat AS.
Rusia sangat khawatir
Pemerintah Rusia dalam beberapa hari terakhir ini sudah mengutarakan kekhawatiran Amerika Serikat memasok rudal balistik Tomahawk ke Ukraina tersebut.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan jika AS memasok rudal Tomahawk ke Ukraina untuk serangan jarak jauh jauh ke Rusia, hal itu akan menyebabkan hancurnya hubungan Moskow dengan AS.
“Pasokan sistem rudal jarak jauh, termasuk Tomahawk, ke Ukraina akan menghancurkan tren positif yang sedang berkembang dalam hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat,” ujar Putin.
Ia juga mengatakan pengiriman rudal Tomahawk akan menandai tahap eskalasi baru, termasuk dalam hubungan antara Rusia dan AS.
Rusia saat ini sedang menunggu kejelasan dari Amerika Serikat tentang pasokan rudal Tomahawk ke Ukraina, dengan mengatakan senjata semacam itu secara teoritis dapat membawa hulu ledak nuklir.
“Jika kita mengabaikan berbagai nuansa, kita berbicara tentang rudal yang juga bisa berkemampuan nuklir. Oleh karena itu, ini benar-benar merupakan babak eskalasi yang serius”, kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
Peskov mengatakan di bawah pendahulu Trump, Joe Biden, praktik AS adalah mengumumkan pasokan senjata baru hanya setelah senjata tersebut dikirim ke Ukraina.

Diawasi AS
Militer Ukraina diperkirakan menerima perangkat keras dan pelatihan untuk penargetan terpadu Tomahawk di bawah pengawasan AS.
Dengan mempertahankan otoritas komando AS atas peluncuran rudal, Washington memastikan kontrol ketat atas eskalasi, sekaligus meningkatkan jangkauan strategis Ukraina.
Ukraina memperoleh kekuatan untuk menyerang jauh di belakang garis Rusia, tetapi hanya di bawah otorisasi terkoordinasi AS.
Menurut Army Recognition, para perencana AS dan NATO kini sedang mempersiapkan platform peluncuran berbasis darat yang kompatibel. Platform ini kemungkinan akan mencakup Sistem Peluncuran Vertikal Mk 41 yang dimodifikasi atau versi darat bergerak yang berasal dari program rudal Typhon Angkatan Darat AS.
Adanya rudal Tomahawk bagi Ukraina ini, tidak hanya mengubah lebih dari sekadar geografi medan perang, tetapi juga mengubah psikologi strategis.
Rusia tidak aman
Selama ini, Rusia tampak lebih dominan dalam perang dengan Ukraina, karena infrastruktur militernya berada jauh di dalam wilayahnya, sehingga sangat terlindungi.
Rusia memiliki keunggulan besar atas Ukraina dalam hal rudal. Secara teratur menggunakan sistem rudal jelajahnya sendiri, seperti Kalibr serta sistem balistik Iskander, untuk menyerang kota-kota Ukraina.
Namun kini tak lagi aman jika Ukraina menggunakan rudal Tomahawk. Dengan Tomahawk, militer Ukraina dapat menghantam pusat komando Rusia di Belgorod, hingga fasilitas Armada Laut Hitam di Krimea, termasuk titik-titik kunci upaya perang Rusia akan berada dalam jangkauan potensial.
Bagi Eropa, bantuan rudal Tomahawk ini menandakan AS siap untuk bergerak melampaui bantuan simbolis, menyediakan perangkat yang dapat secara signifikan mengubah dinamika operasional, sekaligus mempertahankan kendali terhadap eskalasi perang.
Keputusan ini juga sejalan dengan pola yang lebih luas dalam memperluas kemampuan serangan presisi di antara sekutu NATO.
Bagi NATO, secara praktis, langkah ini mengurangi kemampuan militer Rusia, sehingga kemungkinan dapat memaksa Presiden Vladimir Putin untuk mau berunding soal perdamaian, yang selama ia hanya acuh tak ach meski sudah berulangkali ditekan Presiden AS, Donald Trump.(P-Jeffry W)














