TAKTIKINFO – Wonosobo – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memperkenalkan potensi pengelolaan limbah organik rumah tangga, budidaya magot, serta usaha perikanan budidaya. Hal itu dilakukan ketika tim melaksanakan pendampingan penerapan mesin pelet di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, awal Juli 2026.
Tim pengabdian juga memberi pendampingan mengenai budidaya magot, pengolahan bahan organik, formulasi pakan, pengamatan kesehatan ikan, penyusunan SOP produksi, serta pencatatan biaya usaha.
Di Indonesia, “magot” adalah larva atau belatung _Black Soldier Fly_ (BSF), bukan belatung dari lalat rumah.
Magot BSF (Black Soldier Fly) dibudidayakan untuk mengurai sampah organik. Bisa menjadi pakan ikan, ayam, bebek, dan burung karena kandungan proteinnya tinggi. Lalat dewasanya tidak menggigit dan bukan penyebar penyakit utama seperti lalat rumah. Magot mengonsumsi sampah sisa makanan, buah, sayuran, dan limbah organik.
Sebelumnya, limbah organik rumah tangga Desa Sukoharjo menjadi permasalahan lingkungan. Di sisi lain, magot yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah organik belum dimanfaatkan sepenuhnya menjadi produk bernilai tambah.
Pendampingan oleh pihak Unsoed bertujuan meningkatkan kemampuan BUMDes Hardjo Utomo di Sukoharjo memproduksi pakan, serta pemahaman aspek teknis, ekonomi, dan keberlanjutan usaha. Tim Pengabdian tersebut diketuai oleh Prof. Purnama Sukardi. Tim memperkenalkan inovasi teknologi mesin pembuat pelet ikan terintegrasi berbahan dasar magot.
Program inovasi itu dilaksanakan dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat untuk tahun anggaran 2026. Kegiatannya dilakukan bersama Pemerintah Desa Sukoharjo dan BUMDes Hardjo Utomo.
Prof. Purnama Sukardi menjelaskan, magot berpotensi besar sebagai bahan baku pakan ikan alternatif karena berkandungan protein yang dibutuhkan sebagai nutrisi ikan. Pemanfaatannya perlu didukung dengan teknologi pengolahan yang tepat agar dihasilkan pakan yang lebih seragam, higienis, dan layak bagi kegiatan budidaya.
Sebelumnya, limbah organik rumah tangga Desa Sukoharjo masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Di sisi lain, magot yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah organik belum sepenuhnya dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Program pengabdian ini memanfaatkan potensi dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga, budidaya magot, serta usaha perikanan budidaya.
“Melalui kegiatan ini, kami menerapkan teknologi mesin pembuat pelet ikan terintegrasi. Teknologi ini mencakup pengeringan magot, penepungan, pencampuran bahan pakan, pencetakan pelet, hingga pengeringan produk akhir. Harapannya, BUMDes dapat memproduksi pakan ikan berbasis magot secara lebih mandiri dan terstandar,” jelasnya.
Dengan mesin pelet dan pendampingan dari tim UNSOED, BUMDes diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah magot sekaligus menekan biaya produksi budidaya ikan. Dalam pendampingan itu, tim memberi pelatihan kepada sejumlah kader di Desa Sukoharjo.
Diharapkan kegiatan pengabdian itu memperkuat kemandirian pakan ikan berbasis potensi lokal, sekaligus mengurangi limbah organik rumah tangga, serta meningkatkan produktivitas perikanan budidaya di Desa Sukoharjo. Inovasi hasil kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat ini, bisa menjadi model pengelolaan limbah organik yang produktif dan berkelanjutan. ***
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














