KETUA UMUM DPP KKK BERSAMA TOKOH CAGAR BIOSFER BUNAKEN TANGKOKO MINAHASA, UNESCO BAHAS STRATEGI MEMAJUKAN SULAWESI UTARA
TIFF 2026 Menjadi Momentum Kolaborasi Kawanua, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, SDM dan Konservasi Berkelanjutan
TAKTIKINFO – Tomohon, 8 Agustus 2026 — Di tengah semarak Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026, sebuah pertemuan yang sarat makna strategis berlangsung di kawasan Kinilow, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Kawanua (DPP KKK) periode 2025–2030, Angelica B. Tengker atau yang akrab disapa Ika Tengker, bersama Wakil Ketua Umum Nova Rumondor, serta Sekretaris Umum KKK Periode 2023-2024 dr. Roy G.A. Massie, MPH, PhD, berkesempatan bertemu dengan Prof. Ir. Kawilarang Warouw Alex Masengi, MSc., PhD., yang dalam pertemuan tersebut membahas berbagai gagasan mengenai masa depan pembangunan Sulawesi Utara.
Pertemuan berlangsung di Mansai Kitchen and Bar, Kinilow, Tomohon Utara, dalam suasana informal tetapi penuh dengan gagasan mengenai bagaimana potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Sulawesi Utara dapat dioptimalkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lingkungan yang lebih besar bagi masyarakat.
Secara kelembagaan, Angelica Tengker memang kembali dipercaya memimpin DPP KKK untuk periode 2025–2030 melalui Musyawarah Pertemuan Anggota (MPA) X pada April 2025. Ia memperoleh 172 suara, mengungguli Irjen Pol Tommy Watuliu yang memperoleh 57 suara. Kepengurusan periode tersebut kemudian dikukuhkan pada Agustus 2025.
Pertemuan Kawanua dengan Perspektif Global
Pertemuan di Kinilow tersebut menarik karena mempertemukan dua perspektif yang sesungguhnya dapat saling memperkuat.
Di satu sisi terdapat KKK sebagai organisasi masyarakat Kawanua di perantauan, yang memiliki jaringan sosial dan profesional yang luas. Di sisi lain terdapat perspektif pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, konservasi, lingkungan, pariwisata dan pembangunan berkelanjutan, yang dibawa Prof. Kawilarang Masengi melalui keterlibatannya dalam pengembangan Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa dalam kerangka UNESCO Man and the Biosphere (MAB).
UNESCO sendiri mencantumkan Bunaken Tangkoko Minahasa dalam daftar jejaring Cagar Biosfer dunia. Kerangka MAB pada dasarnya menempatkan kawasan biosfer bukan sekadar sebagai kawasan konservasi, tetapi sebagai ruang untuk mencari keseimbangan antara konservasi keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, diskusi tersebut memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar pertemuan silaturahmi. Ia dapat dibaca sebagai pertemuan antara kekuatan diaspora Kawanua, ilmu pengetahuan, sumber daya alam, sumber daya manusia dan agenda pembangunan berkelanjutan Sulawesi Utara.
Sulawesi Utara Memiliki Modal Pembangunan yang Sangat Besar
Dalam diskusi tersebut mengemuka pandangan bahwa Sulawesi Utara sesungguhnya memiliki modal pembangunan yang sangat lengkap.
Provinsi ini memiliki laut, pulau-pulau kecil, terumbu karang, gunung api, danau, hutan tropis, kawasan konservasi, pertanian, perkebunan, florikultura, perikanan, budaya, sejarah, kuliner, masyarakat diaspora dan sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Persoalannya bukan semata-mata apakah Sulawesi Utara memiliki potensi atau tidak.
Potensinya sudah ada.
Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diubah menjadi nilai tambah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, tanpa merusak lingkungan dan identitas budaya yang menjadi modal dasar pembangunan itu sendiri.
Dalam konteks inilah diperlukan strategi pembangunan yang tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pariwisata tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Pertanian tidak dapat dipisahkan dari industri pengolahan.
Perikanan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan laut.
Florikultura tidak dapat dipisahkan dari ekonomi kreatif.
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan industri.
Dan diaspora Kawanua tidak dapat dipandang hanya sebagai kelompok masyarakat perantauan, tetapi sebagai jejaring sumber daya manusia, pengetahuan, modal, teknologi dan pasar yang dapat berkontribusi bagi daerah asal.
KKK dan Potensi Diaspora sebagai Kekuatan Pembangunan
Salah satu gagasan penting yang dapat dikembangkan dari pertemuan tersebut adalah bagaimana KKK dapat menjadi jembatan antara Kawanua di perantauan dengan pembangunan Sulawesi Utara.
DPP KKK periode 2025–2030 sendiri memiliki bidang yang sangat relevan dengan agenda tersebut. Dalam struktur kepengurusannya terdapat bidang yang menangani antara lain PareKraf dan Kepemudaan, Pendidikan dan UMKM, Kebudayaan dan Perempuan, Usaha dan Energi, Sosial dan Kesehatan, serta Luar Negeri dan Media.
Artinya, secara organisasi KKK memiliki ruang yang cukup luas untuk mengembangkan sebuah Kawanua Development Network atau jejaring pembangunan Kawanua.
Jejaring tersebut dapat menghubungkan:
Kawanua di Sulawesi Utara – Kawanua di Jakarta – Kawanua di kota-kota besar Indonesia – Kawanua di Amerika, Eropa, Australia dan negara lainnya – perguruan tinggi – pemerintah – dunia usaha – UMKM – komunitas – lembaga penelitian – serta organisasi internasional.
Apabila jaringan tersebut dikelola secara profesional, KKK tidak hanya berfungsi sebagai organisasi sosial dan kekeluargaan, tetapi dapat berkembang menjadi platform kolaborasi pembangunan daerah.
TIFF 2026 sebagai Momentum Strategis
Pertemuan ini juga berlangsung pada waktu yang sangat tepat.
Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 berlangsung 7–12 Agustus 2026, dengan puncak kegiatan Tournament of Flowers dan Tomohon Flower Carnival pada 8 Agustus. TIFF juga masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Lebih jauh lagi, TIFF 2026 mengangkat tema “Collaboration of Spirit”.
Tema tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan substansi pertemuan di Kinilow.
Karena pembangunan Sulawesi Utara ke depan memang membutuhkan semangat kolaborasi.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi.
Kolaborasi antara generasi senior dan generasi muda.
Kolaborasi antara masyarakat lokal dan diaspora.
Kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Serta kolaborasi antara pembangunan ekonomi dengan konservasi lingkungan.
Bahkan Kementerian Ekonomi Kreatif pada Juli 2026 menekankan agar TIFF tidak berhenti sebagai festival, tetapi dikembangkan menjadi platform ekonomi kreatif berbasis florikultura dan kekayaan intelektual daerah. Agenda TIFF juga mencakup Tourism, Trade, Investment and Floriculture Expo yang membuka ruang promosi, investasi dan business matching.
Dengan demikian, gagasan yang dibicarakan di Kinilow sesungguhnya berada dalam momentum yang sangat tepat.
Dari Festival Menjadi Platform Pembangunan
TIFF seharusnya tidak hanya dilihat sebagai parade bunga.
Bunga adalah pintu masuk.
Di belakang bunga terdapat petani, teknologi budidaya, benih, pupuk, greenhouse, desain, fotografi, fashion, kriya, kuliner, transportasi, hotel, restoran, UMKM, digital marketing, industri kreatif dan perdagangan.
Karena itu, TIFF dapat dikembangkan menjadi rantai nilai ekonomi florikultura Sulawesi Utara.
Petani menghasilkan bunga.
Desainer mengolahnya menjadi karya.
Seniman menciptakan pertunjukan.
Fotografer dan videografer menghasilkan konten.
Pelaku digital memasarkan produk.
Hotel menyediakan akomodasi.
Restoran menyediakan kuliner.
UMKM menghasilkan suvenir.
Pemerintah menyediakan infrastruktur dan regulasi.
Perguruan tinggi memberikan riset dan inovasi.
Investor menyediakan modal.
Dan wisatawan menjadi konsumen dari seluruh ekosistem tersebut.
Inilah yang dimaksud dengan event-based economic development.
Menghubungkan TIFF dengan Potensi Sulawesi Utara
Salah satu gagasan strategis yang dapat dikembangkan adalah menjadikan TIFF sebagai gateway atau pintu masuk untuk memperkenalkan berbagai destinasi Sulawesi Utara.
Wisatawan yang datang ke Tomohon jangan hanya tinggal selama satu atau dua hari.
Mereka dapat diarahkan menuju berbagai kawasan:
Tomohon – Manado – Bunaken – Tangkoko – Minahasa – Langowan – Danau Tondano – Minahasa Selatan – Minahasa Utara – Likupang – Kepulauan Sangihe – Kepulauan Talaud – Kepulauan Sitaro.
Dengan demikian, TIFF tidak hanya memberikan keuntungan kepada Kota Tomohon, tetapi menjadi economic trigger bagi seluruh Sulawesi Utara.
Konsep seperti ini sangat sesuai dengan pendekatan pembangunan destinasi berbasis jaringan atau destination network.
Cagar Biosfer sebagai Model Pembangunan Berkelanjutan
Perspektif Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa juga memberikan dimensi penting dalam diskusi tersebut.
Sulawesi Utara memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Namun kekayaan tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai objek yang harus dilindungi.
Biodiversitas juga dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan, pendidikan, ekowisata, ekonomi lokal, inovasi dan ekonomi kreatif, selama pemanfaatannya dilakukan secara berkelanjutan.
Karena itu, konsep Cagar Biosfer dapat menjadi salah satu model pembangunan Sulawesi Utara:
Konservasi tidak berarti menghentikan pembangunan; pembangunan juga tidak berarti mengorbankan konservasi.
Keduanya harus dipertemukan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola dan partisipasi masyarakat.
Dalam konteks ini, kawasan seperti Bunaken, Tangkoko, Danau Tondano, kawasan pegunungan Minahasa, hutan, pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dikembangkan melalui pendekatan yang mengintegrasikan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat.
SDM Kawanua: Aset yang Belum Sepenuhnya Dioptimalkan
Salah satu kekuatan terbesar Sulawesi Utara yang sering kali kurang terlihat adalah human capital.
Orang Kawanua tersebar di berbagai profesi.
Ada akademisi, dokter, peneliti, pengusaha, birokrat, diplomat, militer, profesional, seniman, pekerja industri, teknolog, praktisi pariwisata, pelaku UMKM dan generasi muda yang bekerja di berbagai pusat ekonomi dunia.
Potensi tersebut dapat dihimpun melalui sebuah database atau talent network Kawanua.
Misalnya:
Kawanua Research Network
Kawanua Business Network
Kawanua Tourism Network
Kawanua Creative Economy Network
Kawanua Young Professionals Network
Kawanua Diaspora Investment Network
Dengan demikian, orang Kawanua tidak hanya menjadi kebanggaan karena keberhasilannya di luar daerah, tetapi keberhasilan tersebut dapat menciptakan multiplier effect bagi Sulawesi Utara.
Generasi Muda Harus Menjadi Motor
Pembicaraan tentang pembangunan Sulawesi Utara tidak akan lengkap tanpa membicarakan generasi muda.
Anak-anak muda Sulawesi Utara harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pencari pekerjaan, tetapi sebagai:
entrepreneur, researcher, innovator, content creator, environmentalist, tourism professional dan creative worker.
TIFF dapat menjadi laboratorium besar bagi generasi muda.
Mereka dapat belajar mengenai event management, hospitality, floriculture, digital marketing, fotografi, videografi, desain, seni pertunjukan, teknologi, kuliner dan kewirausahaan.
KKK sendiri memiliki bidang kepemudaan dalam struktur organisasi 2025–2030, sehingga isu regenerasi dan pengembangan generasi muda dapat menjadi salah satu agenda strategis organisasi.
Mengembangkan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
Sulawesi Utara tidak harus selalu mengejar model pembangunan yang bergantung pada industri besar.
Ada peluang besar untuk membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Contohnya:
1. Florikultura
Tomohon dan sekitarnya dapat dikembangkan sebagai pusat florikultura Indonesia Timur.
1. Kopi
Kawasan Minahasa dan Langowan mempunyai sejarah dan potensi perkebunan kopi yang dapat dikembangkan menjadi coffee tourism.
1. Perikanan
Potensi laut Sulawesi Utara dapat dikembangkan melalui industri perikanan berkelanjutan dan hilirisasi.
1. Ekowisata
Bunaken, Tangkoko, kawasan pegunungan dan danau dapat menjadi laboratorium ekowisata.
1. Wellness Tourism
Sumber air panas, udara pegunungan, alam dan kuliner lokal dapat menjadi basis wellness tourism.
1. Heritage Tourism
Sejarah Minahasa, situs-situs kolonial, sejarah misionaris, perkebunan, Danau Tondano dan sejarah penerbangan dapat dikembangkan menjadi wisata sejarah.
1. Culinary Tourism
Kuliner Minahasa dapat menjadi salah satu identitas gastronomi Sulawesi Utara.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata bukan hanya kegiatan “melihat dan berfoto”, tetapi menjadi rantai ekonomi masyarakat.
Dari Kinilow Menuju Agenda Besar Sulawesi Utara
Pertemuan di Mansai Kitchen and Bar Kinilow dapat menjadi sebuah simbol sederhana tetapi memiliki makna besar.
Empat orang dalam foto tersebut bukan sekadar sedang menikmati suasana Tomohon.
Mereka sedang mempertemukan pengalaman organisasi, jaringan Kawanua, ilmu pengetahuan, konservasi dan gagasan pembangunan.
Di satu sisi terdapat KKK dengan jaringan masyarakat Kawanua yang luas.
Di sisi lain terdapat pengalaman akademik dan perspektif Cagar Biosfer.
Di tengahnya terdapat Sulawesi Utara dengan segala kekayaan alam dan manusianya.
Dan di luar ruang pertemuan itu terdapat sebuah momentum besar bernama Tomohon International Flower Festival 2026.
TIFF tahun ini sendiri secara resmi mengusung semangat “Collaboration of Spirit”, sehingga gagasan tersebut sangat tepat dijadikan titik awal untuk membangun kolaborasi yang lebih besar.
Gagasan Besar: Kawanua untuk Sulawesi Utara
Dari diskusi tersebut sebenarnya dapat dikembangkan sebuah gagasan besar:
“Kawanua for North Sulawesi Development”
Sebuah gerakan kolaboratif yang menghubungkan:
Kawanua – Pemerintah – Perguruan Tinggi – Dunia Usaha – Diaspora – Generasi Muda – Komunitas – Lembaga Penelitian – dan Masyarakat.
Fokusnya dapat diarahkan pada lima agenda utama:
1. Sustainable Tourism
Pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis alam, budaya dan masyarakat.
1. Human Capital Development
Peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan dan kewirausahaan.
1. Investment & Business Development
Menghubungkan investor dan diaspora dengan peluang investasi di Sulawesi Utara.
1. Conservation & Biodiversity
Memperkuat konservasi melalui pendekatan Cagar Biosfer dan ilmu pengetahuan.
1. Creative Economy & Culture
Mengembangkan budaya, kuliner, florikultura, seni dan ekonomi kreatif sebagai sumber nilai tambah.
Menjadikan Sulawesi Utara sebagai Laboratorium Pembangunan Berkelanjutan
Gagasan yang jauh lebih besar dapat dikembangkan dari sini.
Sulawesi Utara dapat diposisikan sebagai living laboratory atau laboratorium kehidupan untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia Timur.
Di satu kawasan terdapat:
laut dan terumbu karang; hutan tropis dan biodiversitas; gunung api; danau;
pertanian dan perkebunan; florikultura; budaya dan sejarah;
pariwisata; perguruan tinggi; masyarakat diaspora; serta generasi muda yang kreatif.
Apabila seluruh unsur tersebut dihubungkan dengan teknologi, investasi dan kebijakan yang tepat, Sulawesi Utara memiliki peluang untuk menjadi salah satu model pembangunan berbasis biodiversitas dan ekonomi kreatif di Indonesia.
TIFF Bukan Titik Akhir, Tetapi Titik Awal
Pada akhirnya, TIFF 2026 sebaiknya tidak berhenti ketika parade bunga selesai.
Justru setelah festival berakhir, pekerjaan besar dimulai.
Bagaimana wisatawan yang datang dapat kembali?
Bagaimana investasi dapat masuk?
Bagaimana UMKM berkembang?
Bagaimana petani memperoleh manfaat?
Bagaimana generasi muda memperoleh pekerjaan berkualitas?
Bagaimana destinasi lain di Sulawesi Utara ikut mendapatkan dampak ekonomi?
Bagaimana biodiversitas tetap terjaga?
Dan bagaimana diaspora Kawanua dapat mengambil bagian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan agenda pembangunan yang jauh lebih besar daripada sebuah festival.
Karena itu, pertemuan Ketua Umum DPP KKK Angelica Tengker, Wakil Ketua Umum Nova Rumondor, Dr. dr.. Roy Massie, MPH., dan Prof. Kawilarang Warouw Alex Masengi, MSc., PhD., dapat dipandang sebagai bagian dari percakapan yang lebih besar tentang masa depan Sulawesi Utara.
Penutup
Sulawesi Utara sesungguhnya tidak kekurangan potensi.
Yang diperlukan adalah orkestrasi potensi. Alam harus dipertemukan dengan ilmu pengetahuan.
Budaya harus dipertemukan dengan ekonomi kreatif.
Pariwisata harus dipertemukan dengan konservasi.
Diaspora harus dipertemukan dengan peluang investasi.
Generasi muda harus dipertemukan dengan teknologi.
Dan pemerintah harus menjadi katalisator yang mempertemukan seluruh kekuatan tersebut.
Dalam semangat “Si Tou Timou Tumou Tou” — manusia hidup untuk memanusiakan manusia, pembangunan Sulawesi Utara pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pertemuan antara Pengusaha, Lawyer dan Akademisi Kawanua di Kinilow mungkin hanya berlangsung dalam suasana santai, tetapi gagasan yang lahir dari sebuah meja makan dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah visi bersama untuk menjadikan Sulawesi Utara sebagai provinsi yang maju, berdaya saing, berbudaya, berbasis ilmu pengetahuan, kaya inovasi, tetapi tetap menjaga alam dan identitasnya.
Dan TIFF 2026 dengan tema “Collaboration of Spirit” memberikan momentum yang sangat tepat untuk memulai gerakan tersebut.
Dari Tomohon, dari Kinilow, dari semangat Kawanua—kita membangun Sulawesi Utara bukan hanya dengan melihat apa yang kita miliki, tetapi dengan menyatukan seluruh kekuatan yang kita miliki untuk masa depan.
“Kawanua Bersatu, Potensi Bersatu, Kolaborasi Bergerak, Sulawesi Utara Maju.”
Situs resmi Tomohon International Flower Festival 2026
Cagar Biosfir Bunaken Tangkoko Minahasa. Man And Biosphere Programe. UNESCO, PBB.
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














