PRIORITAS, 9/9/25 (Kathmandu): Demonstrasi massal nasional yang dimotori warga Generation-Z (Gen-Z) Nepal, berhasil memaksa Perdana Menteri Kadga Prasad Oli mengundurkan diri. Tiga Menteri lain termasuk Menteri Dalam Negeri juga mundur.
Aksi unjukrasa kaum generasi muda Nepal berusia 12 hingga 30 tahun selama dua hari itu, memang dibayar mahal dengan 21 rekan mereka tewas ditembak polisi, saat mereka merangsek maju ke gedung parlemen dan kantor pemerintah Nepal, yang dijuluki warga sebagai sarang korupsi.
Para pendemo bersikeras tidak akan berhenti meski Perdana menteri dan tiga menteri lain mundur.
Mereka ingin ada jaminan pemerintah Nepal benar-benar dibersihkan dari korupsi. Hal itu menjadi perjuangan mereka demi darah teman-teman yang tewas dibunuh aparat kotor.

“Kami masih berdiri di sini untuk masa depan kami … Kami ingin negara ini bebas korupsi, sehingga semua orang dapat dengan mudah mengakses pendidikan, rumah sakit, fasilitas medis … dan untuk masa depan yang cerah,” tegas salahsatu pengunjuk rasa, Robin Sreshtha, kepada Reuters TV, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari The Independent, hari Selasa sore (9/9/25).
Jumlah korban tewas dalam aksi unjukrasa ini sejauh ini mencapai 21 orang. Sebanyak 19 tewas pada hari Senin dan dua pada hari Selasa (9/9/25) serta lebih dari 100 orang mengalami luka serius setelah polisi menembaki pengunjuk rasa di Kathmandu. Angka ini dikhawatirkan akan bertambah, karena masih banyak korban luka berat dirawat di sekitar 8 rumahsakit.
Massa semakin marah
Akibat melihat rekan-rekan mereka tewas dibunuh aparat, para pengunjukrasa semakin marah.
Para pengunjuk rasa membakar ban di beberapa jalan, melemparkan batu ke arah personel polisi yang mengenakan perlengkapan anti huru hara, dan mengejar mereka melalui jalan-jalan sempit.

Para demonstran akhirnya membakar gedung parlemen, rumah presiden dan perdana menteri serta gedung pemerintah lainnya.
Sejumlah menteri dan keluarganya terpaksa melarikan diri dengan helikopter. Selasa sore otoritas penerbangan sipil Nepal mengumumkan penutupan penuh bandar udara, setelah pendemo mulai menuju ke sana. Hal ini menyebabkan gangguan yang meluas.
Asap dari protes terlihat mengepul di landasan pacu di bandara Internasional Tribhuvan, bandara utama ibu kota, yang terletak dekat dengan pusat kota.
Seorang saksi mata mengatakan dia melihat pengunjuk rasa membakar rumah para politisi, dan para menteri dibawa ke tempat aman oleh helikopter militer.
Rumah pribadi PM Nepal di Balkot, Bhaktapur, di sebelah timur Kathmandu, juga dibakar saat protes antipemerintah menyebar ke luar pusat kota.
Pihak berwenang mengatakan para demonstran berbaris menuju kompleks perumahan PM Oli saat fajar dan berusaha menerobos barikade keamanan.
Polisi berusaha menahan mereka, tetapi para demonstran menolak bubar dan akhirnya membakar properti tersebut, lapor Kathmandu Post. Hunian tersebut berisi dua rumah, yang keduanya dilalap api selama serangan tersebut.
Tidak mereda
Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli terpaksa mengundurkan diri akibat protes antikorupsi yang mematikan tidak ada tanda mereda.
Selain perdana menteri, tiga menteri kabinet, termasuk menteri dalam negeri, telah mengundurkan diri.

Dalam sebuah pernyataan, PM Nepal mengatakan ia mengundurkan diri mengingat krisis yang melanda Kathmandu. “Kita harus menempuh jalur dialog damai untuk menemukan solusi atas setiap masalah”, ujarnya.
Sebelumnya mundur pada hari Selasa, PM Nepal telah mencabut larangan media sosial (medsos) dan mengadakan pertemuan lintas partai, dengan harapan aksi unjukrasa kaum muda bisa selesai.
Namun kemarahan terhadap pemerintah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Para pengunjuk rasa malah menyerbu kompleks parlemen di ibu kota dan membakar kediaman para politisi senior.
Rumah beberapa politisi terkemuka yang dinilai warga sebagai koruptor lainnya juga dibakar, termasuk kediaman Presiden Nepal Ram Chandra Poudel, menteri dalam negeri Ramesh Lekhak, pemimpin partai Kongres Nepal yang berkuasa Bahadur Deuba, dan pemimpin Partai Komunis Nepal (Pusat Maois), Pushpa Kamal Dahal.
Ribuan orang dari kota-kota yang terletak di dekat perbatasan India-Nepal juga berbaris menuju Kathmandu untuk mendukung para pengunjuk rasa, kata seorang demonstran kepada kantor berita Reuters.
Akumulasi frustrasi warga
Protes besar di Nepal ini bermula dari kemarahan Generasi Z terhadap pemblokiran pemblokiran sekitar dua lusin platform media sosial (medsos) yang digunakan secara luas, termasuk Whatsapp, Facebook, X (Twitter) dan YouTube.
Pemerintah Nepal beralasan sengaja menutup akses medsos tersebut agar pengelola mematuhi aturan baru yang mengharuskan pendaftaran dan pengawasan langsung pemerintah.

Namun langkah tersebut secara luas dipandang kaum Gen-Z, sebagai upaya untuk membungkam gerakan demokrasi masyarakat, yang protes terhadap korupsi dan nepotisme di pemerintahan Nepal.
Akhirnya puluhan ribu Gen-Z turun ke jalan diikuti masyarakat umum yang juga sudah lama menyimpan kemarahan kepada pemerintah yang nepotisme dan korupsi.
Aksi Gen-Z ini kemudian memicu sejumlah gerakan daring populer menyebar melalui media sosial lain seperti Tiktok yang sudah pemblokirannya sudah dicabut lebih dulu.
Ratusan ribu orang turun ke jalan di ibu kota Nepal, Kathmandu, sejak Senin hingga Selasa.
Mereka tidak peduli adanya ancaman dan tindakan represif aparat keamanan yang melarang aksi demo sesuai arahan pemerintah Nepal.
“Hentikan larangan media sosial” dan “Hentikan korupsi, bukan media sosial”, teriak para pengunjukrasa yang didominasi kaum usia muda sambil mengibarkan bendera nasional.
Umumnya warga Nepal dewasa menilai ledakan aksi unjukrasa ini merupakan akumulasi dari rasa frustrasi dan kemarahan yang terjadi selama satu dekade terakhir akibat salah urus dan korupsi yang masif di pemerintahan.
“Pengangguran di Nepal sangat tinggi dan Anda bisa melihat banyaknya anak muda yang meninggalkan negara ini,” ujar seorang pilot berusia 62 tahun asal Nepal, Sudeep Bista, kepada The Independent.
Ia menyebut pemerintahan Nepal saat ini sudah rusak. “jasa tidak berarti apa-apa dan semua jabatan tinggi diberikan kepada kader politik”, ungkapnya merujuk pada pekerja partai dan anggota keluarga mereka. (P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














