‎Dari Konferensi Internasional AgroFood 2026 Kuala Lumpur, Donald Pokatong: Penurunan Penggunaan Gandum Impor dapat Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia

Terkait

Assoc Prof.Ir W.Donald R. Pokatong, MSc, PhD, Saat Membawakan Presentasi Pada Konferensi Internasional Ke-7 AgroFood 2026 di Kuala Lumpur


‎TAKTIKINFO – Adanya impor gandum dalam jumlah besar menyebabkan kemandirian pangan Indonesia masih sulit tercapai. Dari data yang ada, Indonesia pada 2024 masih mengimpor gandum sebesar 11,7 juta ton dengan nilai sekitar Rp56,6 triliun. Nilai yang sangat besar ini menjadi isu ekonomi dan menjadi beban ketahanan pangan yang menyebabkan kemandirian pangan nasional sulit tercapai.

‎Demikian disampaikan Dosen Senior Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) Assoc. Prof. Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D. saat membawakan materi dalam “Konferensi Internasional ke-7 tentang Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Keamanan Pangan” (AgroFood 2026) pada 4-5 Agustus 2026, di Hotel Capitol, Kuala Lumpur.

‎Pada Konferensi internasional ke-7 AgroFood 2026, Donald Pokatong selanjutnya mengatakan, Indonesia harus mengimpor gandum/tepung gandum untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk digunakan memproduksi berbagai produk pangan olahan antara lain mi instan, kue kering/biskuit, kue basah, dan produk-produk roti termasuk roti tawar dimana tepung terigu (gandum) merupakan bahan baku utamanya.

‎“Karena itu untuk tidak menjadi beban ketahanan pangan, maka ada hasil penelitian laboratorium Teknologi Pangan UPH yang kami presentasikan adalah bagaimana sumber pangan lokal dapat mensubstitusi secara parsial tepung terigu yang harus diimpor. Tepung yang diolah dari kacang tunggak sebagai sumber pangan lokal dimodifikasi secara fisik menggunakan metode perlakuan termal dan lembab (heat moisture treatment), kemudian digunakan dalam pengolahan roti tawar dimana tepung terigu dicampur dengan tepung kacang tunggak termodifikasi dengan beberapa rasio tertentu,” kata Donald Pokatong, yang pada konferensi internasional tersebut mewakili Universitas Pelita Harapan (UPH), untuk Program Studi Teknologi Pangan.

‎Lebih lanjut Doktor Pokatong mengatakan, dengan substitusi parsial diharapkan dapat mengurangi penggunaan gandum yang harus diimpor yang artinya menurunkan beban ketahanan pangan. Penelitian sejenis ini perlu terus dilanjutkan untuk memperoleh rasio substitusi optimal. Hal ini merupakan tantangan karena gandum memiliki protein fungsional yakni gluten yang tidak terdapat pada biji-bijian jenis polong-polongan (legume), umbi-umbian, dll, hal ini juga menjadi alasan mengapa tepung terigu tidak bisa diganti 100% oleh tepung dari sumber lain. Protein ini yang menyebabkan pengembangan volume roti maksimal, sehingga dengan dasar ini, konsumer akan memilih roti tawar dengan volume yg lebih besar walaupun dibuat dari adonan dengan berat yang sama.

‎”Secara nasional, kita masih mengimpor beberapa bahan pangan termasuk kedelai yang harus diimpor. Apalagi gandum, mau tidak mau, harus diimpor karena Indonesia yang tropis, gandum tidak bisa tumbuh. Hal ini mempersulit Indonesia mencapai swasembada pangan, dimana paling tidak 90% pangan harus dari sumber domestik, sesuai dengan amanat dalam UU Pangan No. 18 Tahun 2012 yang antara lain tentang kemandirian (swasembada) pangan,” ujar Donald Pokatong dalam konferensi internasional menggunakan bahasa Inggris.

‎Pokatong menjelaskan, Agro Food 2026 yang diselenggarakan oleh iConferences, Srilangka sebagai organizer dengan Mitra Akademik dari Universiti Malaya dan University of Agriculture, Faisalabad, Pakistan dilakukan dengan format luring dan daring untuk memastikan aksesibilitas global. Menghadirkan presenter/pembicara dari berbagai negara antara lain, China, Taiwan, India, Pakistan, Colombia, Indonesia, Bangladesh, Srilangka, dan tentunya Malaysia, dan yang presentasi secara daring a.l. dari Inggris, Australia, Canada, Afrika Selatan.

‎Menurut Pokatong, pada Konferensi tahun ini, yang mengangkat tema di atas, menyatukan beragam komunitas ahli, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk mengeksplorasi solusi inovatif terhadap beberapa tantangan paling mendesak di zaman kita. Diskusi berfokus pada pertanian berkelanjutan, teknologi, ketahanan pangan, keamanan pangan, dan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, di tengah tantangan perubahan iklim global. (*/hvs)

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini