PRIORITAS, 28/1/25 (Sleman, Yogyakarta): Memahami geopolitik dan geostrategi menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks di era modern ini. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, bangsa Indonesia perlu memahami geopolitik dan geostrategi untuk menghadapi tantangan global tersebut.
Dalam Simposium Arkipelagis di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, D.I Yogyakarta, Selasa (28/1/25), Sultan HB X menekankan pentingnya wawasan tersebut mengingat posisi Indonesia yang semakin strategis dalam percaturan internasional, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
Perubahan dinamika politik dan ekonomi dunia yang cepat, serta meningkatnya ketegangan di berbagai wilayah, mengharuskan negara-negara untuk memiliki wawasan yang mendalam tentang posisi mereka di kancah internasional.
Geopolitik, yang berkaitan dengan pengaruh geografis terhadap kebijakan politik, dan geostrategi, yang merujuk pada strategi untuk mencapai kepentingan nasional di kancah global, memainkan peran krusial dalam menentukan arah kebijakan luar negeri, ekonomi, dan pertahanan suatu negara.
Dengan pemahaman yang baik tentang geopolitik dan geostrategi, sebuah negara dapat merancang kebijakan yang adaptif dan efektif untuk melindungi kepentingan nasional, berkolaborasi dengan negara lain, serta mengelola risiko yang muncul dari ketidakpastian global.
Hal ini juga penting untuk menghadapi tantangan transnasional seperti perubahan iklim, perdagangan internasional, terorisme, dan pandemi, yang memerlukan kerjasama lintas batas dan solusi yang bersifat strategis dan terintegrasi.
“Bangsa Indonesia harus memiliki pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi. Tujuannya adalah untuk menggugah wawasan, dalam usaha mengeksplorasi jati diri bangsa,” ujar Sultan.
Pusat perkembangan di Indo-Pasifik
Sultan HB X menjelaskan, pusat perkembangan dunia yang sebelumnya berada di Mediterania dan Atlantik, kini telah bergeser ke kawasan Indo-Pasifik. “Dinamika pergeseran pusat perhatian dan kegiatan dunia semakin bergeser ke arah timur,” ujar Sultan.
Pergeseran tersebut memantik berbagai negara, khususnya di sekitar Samudera Hindia menyusun strategi, baik secara bilateral maupun multilateral. Tiongkok, misalnya, menginisiasi strategi “Belt and Road”, sementara Jepang meluncurkan strategi “Free and Open Indo-Pacific”, dan Amerika Serikat mengembangkan program “Indo-Pacific Strategy.”
Menurut Sultan, pergeseran itu kembali menempatkan kepulauan di Indonesia sebagai persilangan strategis, mirip dengan masa kejayaan bahari Nusantara beberapa abad silam. “Indonesia sendiri, telah berusaha menempatkan diri sebagai Poros Maritim Dunia,” kata dia dikutip Antara.
Dalam menghadapi peluang dan tantangan global, Raja Keraton Yogyakarta itu pun mengingatkan pentingnya menerapkan “Bhinneka Tunggal Ika” tidak sekadar sebagai slogan, tetapi juga sebagai strategi kebudayaan yang diimplementasikan dalam kebijakan publik.
Menurut Sultan, sejarah telah membuktikan bahwa hidup dalam multikulturalisme yang toleran dan saling menghargai dapat menjadi sumber kemajuan. “Sejarah juga menunjukkan, proses integrasi berbagai budaya dan bangsa, adalah keniscayaan dalam sejarah Nusantara,” ucap dia. (P/bwl)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














