Memakan Waktu 5 Tahun, Film “Mariara” Akhirnya Bakal Tayang di Bioskop Jaringan XXI pada November 2024

Terkait

PRIORITAS, 9/9/2024 (Jakarta): Film Mariara, adalah film karya anak-anak Manado yang tergabung dalam komunitas film Sulawesi Utara. Film ini bercerita tentang aktivitas dunia perdukunan di tanah Minahasa. Film ini sudah mendapat slot dari jaringan XXI untuk tayang di bulan November tahun ini.

Film bergenre horror thriller ini berdurasi sekitar 97 menit ini diproduksi oleh Gorango Pictures yang merupakan rumah produksi sinema lokal Sulawesi Utara diproduseri DR. Merdy Rumintjap dan disutradarai Jeffry Luntungan alm dan Veldy Reynold Umbas yang juga merupakan penulis novel Mariara itu sendiri.

Untuk memperkuat pendalaman karakter di film ini, Amato Assegaf dipercayakan  sebagai acting coach dan Eric Dajoh  sebagai pemeran dan supervisi pemeran.

Seperti ditulis Wikipedia, film ini dikerjakan dalam masa produksi yang cukup lama, 5 tahun, dimulai dari tahun 2019 dan mengalami masa covid-19 pada tahun 2020 terhenti, kemudian dilanjutkan produksinya, masuk ke tahap pascaproduksi (editing, mastering) dan pada November 2024 baru bisa ditayangkan di bioskop Indonesia.

Film ini nyaris  tidak bisa diselesaikan karena beberapa pemerannya tidak lagi melanjutkan syuting, sementara sejumlah pemeran lain sudah lebih dahulu meninggal dunia.

Para pemeran film ini rata-rata pemeran dari Sulawesi Utara yang beberapa di antaranya sudah banyak berkiprah di dunia seni peran sampai level nasional seperti Eric Dajoh, Leon Alexander, Servy Kamagi, Mercy Lateka.

Beberapa pemeran lain seperti Yashinta Tetelepta, Inyo Rorimpandey, alm. Frangky Supit, Amato Assegaf, Alex Bawole, Anto Bawole, Maurits Karinda, Nova Wowor, Berty Koloay, Davo dan Licky, juga merupakan aktor-aktor hebat yang mampu menunjukkan kemampuan acting mereka dalam film layar lebar.

Sinopsis

Salah satu adegan dalam film Mariara. Film ini adalah film horor dengan latar belakang cerita rakyat Minahasa. (Foto: Ist./Gorango Pictures)

Kampung Patemboan di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, sedang bergembira atas terpilihnya Kepala Desa (Kumtua) yang baru hasil pilihan rakyat. Kumtua Sebina memberikan sambutan atas keterpilihan dirinya sebagai kepala desa. Namun, tak berapa lama tiba-tiba tubuhnya membiru dan terkapar jatuh. Kumtua Sebina meninggal seketika. Kondisi tubuhnya seperti hangus terbakar.

Pengadilan desa menemukan tersangka pelaku, dan memutuskan, Marten Karengkom harus diusir dari kampung Patemboan. Rumahnya dibakar massa. Marten bersama istri dan anaknya mengungsi ke kaki Gunung Soputan.

Lalu muncul tokoh pendeta muda bernama David. Kehadirannya membuat keresahan baru di Desa Patemboan karena ia ingin mengembalikan Marten dan keluarganya ke desa Patemboan.

David yang dianggap terlalu masuk jauh dalam situasi kampung Patemboan pun mengalami banyak keanehan. Warga kampung lalu mempercepat ritual pengorbanan bayi di sebuah goa Mariara di kaki Gunung Soputan.

Produksi Lokal

Para kru film dan tim produksi semuanya berasal dari Sulawesi Utara di antaranya Art Director Denny Ratulangi, Director of Photography (DOP) Heven Karisoh dan asisten kamerawan Mindri Sugindo.

Pihak produser mengatakan, film ini didedikasikan kepada mereka yang telah memberikan kontribusi secara optimal, khususnya bagi mereka yang telah mendahului di masa produksi yaitu Jeffry Luntungan alm,  Franky Supit alm, Hendra Zoenardjy alm, Owen Mangundap alm, Sammy Tampi alm, dan Jemmy Tuegeh alm.

Sebagai film layar lebar produksi perdana dari Gorango Production yang bermarkas di Manado, Mariara memang membutuhkan waktu lama, mulai dari Pra Produksi, Syuting, proses Produksi sampai pascaproduksi.

“Mungkin ini salah satu film terlama yang dibuat di Indonesia. Di mulai dari persiapan atau pra produksi sejak 2018, proses syuting pada 2019, dan proses produksi lanjutan dan pascaproduksi mulai di awal 2024.

Diakui produksi film ini sempat mengalami kemacetan karena ada beberapa adegan harus di-take ulang,” kata Produser Film Mariara, Merdy Rumintjap, kepada sejumlah media di Jakarta, Senin (9/92024).

Mediaaku.com yang berada di lokasi, mengungkapkan, penyebab mandeknya  produski film ini dikarenakan banyak kendala, yakni medan lokasi syuting yang terlalu berat hingga kendala pandemi Covid-19 di 2020, membuat film ini sempat terhenti begitu lama.

“Meski ada banyak sekali halangan, namun tekad kami sangat kuat untuk membuat karya dan memperkaya khasanah perfilman nasional dari Sulawesi Utara,” tutur Merdy Rumintjap.

Kendala Mistis

Merdy melanjutkan, selain kendala pandemi Covid-19, di tengah proses syuting juga ada sejumlah pemain film ini yang sudah dipanggil Yang Maha Kuasa, sehingga harus dilakukan sejumlah penyesuaian agar film ini bisa dilanjutkan. Merdy juga tak menampik adanya kendala-kendala yang sifatnya mistis, karena kata “Mariara” ini seharusnya tidak dibicarakan di tempat umum.

“Memang setiap kali kami ingin menuntaskan film ini, selalu ada saja kendala yang datang. Seperti ada pemain yang tidak mau lagi melanjutkan syuting, padahal scene-nya sudah banyak yang di-take. Bahkan ketika di post production, sering sekali terjadi file error tanpa sebab yang jelas,” tambah Merdy yang lulusan pasca sarjana UI ini.

Terimakasih kepada XXI

Merdy yang juga Mantan Jurnalis ini selanjutnya mengatakan, berkat doa dan dukungan dari masyarakat Sulawesi Utara dan masyarakat pecinta film di Indonesia, akhirnya film besutan Sutradara Veldy Reynold dan Almarhum Jeffrey Luntungan, bisa tuntas diproduksi.

Film ini juga bisa diterima oleh XXI dengan baik, sehingga bisa mendapat kesempatan untuk tayang tahun ini (November 2024), meski kompetisi di XXI sangat ketat. Siapa tahu, Mariara beroleh keberuntungan dengan mengumpulkan banyak penonton.

“Kami patut memberikan apresiasi besar kepada XXI yang sudah melihat secara obyektif film ini, yang meskipun diproduksi oleh anak-anak daerah dengan konten materi kearifan lokal, XXI sangat terbuka memberikan ruang untuk berkembangnya perfilman nasional dari daerah,” imbuhnya.

Film ini menawarkan alternatif tontonan yang berbeda dari biasanya. Bahasa yang dipakai dalam dialog adalah bahasa Melayu-Manado, tapi dilengkapi subtitle bahasa Indonesia agar Mariara bisa ditonton bukan hanya oleh orang Manado tapi juga dari daerah lain. (P-ht)

 

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini