Netanyahu sebut demonstrasi massa justru bantu militan Hamas kembali serang Israel

Terkait

PRIORITAS, 18/8/25 (Tel Aviv): Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam keras masyarakat yang ikut melakukan aksi unjukrasa. Ia menilai aksi mereka itu, adalah tindakan bodoh, karena menuntut militer Israel mengakhiri perang di Jalur Gaza, ibarat membantu militan Hamas untuk kembali melakukan serangan ke Israel, sama seperti 7 Oktober 2023 lalu.

Ketika itu, militan Hamas dan kelompoknya seperti Jihad Islam membantai secara sadis sebanyak 1250 warga Israel dan menculik 250 lainnya kemudian ditawan di dalam sejumlah terowongan di Jalur Gaza hingga kini.

Pasukan Israel akhirnya membalas dengan melakukan operasi militer terpadu ke Jalur Gaza dengan tujuan untuk menghabisi semua militan Hamas dan membebaskan seluruh sandera.

“Mereka yang ingin mengakhiri perang tanpa kekalahan Hamas, sama  dengan menginginkan 7 Oktober lagi”, kata Netanyahu mengingatkan.

Ribuan orang Israel hari Minggu bergabung dalam aksi mogok nasional di lapangan Tel Aviv, mendesak militer negara tersebut untuk mundur keluar dari Jalur Gaza, agar sisa 50 sandera yang masih ditahan militan Hamas di Jaur Gaza selama hampir dua tahun, bisa dibebaskan.

Para demonstran juga memblokir jalan, mengganggu layanan kereta api dan mengajak para mantan sandera dan keluarga mereka untuk melakukan aksi unjukrasa itu.

Aksi unjuk rasa untuk para sandera di Tel Aviv, hari Minggu 17 Agustus 2025.(ynetnews)

Perang tanpa akhir

Saat membuka rapat kabinet seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Ynetnews, hari Senin (18/8/25), PM Israel langsung mengkritik tajam para pengunjuk rasa yang berpartisipasi dalam “Mogok Rakyat” itu.

“Mereka yang menyerukan hari ini untuk mengakhiri perang tanpa mengalahkan Hamas, tidak hanya memperkeras sikap miltan Hamas dan menunda pengembalian sandera kami, mereka juga memastikan bahwa kengerian Oktober akan terulang kembali dan bahwa kita harus berperang tanpa akhir”, jelas Netanyahu.

Netanyahu menekankan kontrol keamanan Israel yang berkelanjutan di Jalur Gaza saat ini,  merupakan syarat untuk mengakhiri perang.

“Hamas menolak syarat-syarat ini. Kami tidak hanya menuntut pelucutan senjata miltan Hamas, tetapi juga menegakkan demiliterisasi Gaza secara bertahap, bertindak terus-menerus terhadap setiap upaya kelompok teroris untuk mempersenjatai kembali atau mengorganisir pasukan,” ungkapnya.

Ia memperingatkan militan Hamas yang semakin terdesak, menginginkan sebaliknya. Mereka ingin militer Israel keluar sepenuhnya dari Jalur Gaza.

“Jika pasukan Israel keluar dari jalur Gaza, utara, selatan dan koridor Philadelphia yang mencegah penyelundupan senjata dan dari perimeter keamanan yang melindungi komunitas kami, ini akan memungkinkan militan Hamas untuk mengatur ulang, mempersenjatai kembali, dan menyerang kami lagi, mengancam Nir Oz, Kisufim, dan Sderot”, papar PM Israel.

Petugas polisi Israel memadamkan ban yang dibakar pengunjuk rasa di jalan utama antara Tel Aviv dan Yerusalem, Israel, 17 Agustus 2025. (asharqalawsat)

Kelompok sayap kiri

Penyelenggara aksi unjukrasa itu adalah Forum Sandera dan Keluarga Hilang Israel.

Sampai saat ini sudah 681 hari militan Hamas masih menahan sekitar 50 sandera. Sebanyak 30 di antaranya diyakini sudah tewas, hanya tersisa 20 sandera yang masih hidup.

Para demontran justru menyalahkan militer Israel yang masih terus melakukan serangan dan pengepungan terhadap posisi militan Hamas di Jalur Gaza.

Di Yerusalem, responsnya lebih tenang.  Menteri Keamanan Nasional Israel,  Itamar Ben-Gvir, menyebut aksi unjukrasa itu sebagai kegagalan.

“Ini adalah protes dan blokade jalan yang sama seperti yang kita lihat sebelum 7 Oktober. Mereka hanya melemahkan Israel dan tidak mendekatkan para sandera dengan tanah air mereka”, jelasnya.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich,  menolak ajakan pemogokan nasional pada hari itu, dengan mengatakan Israel tidak berhenti sedetik pun.

Ia berpendapat hanya “minoritas kecil” yang memblokir jalan dan menuduh kelompok sayap kiri memanfaatkan perjuangan para sandera untuk melemahkan pemerintah sah Israel.

“Perdana Menteri, rakyat mendukung Anda,” kata Smotrich. “Hentikan mempertimbangkan kesepakatan parsial dan berikan perintah kepada militer untuk mengakhiri perang ini dengan kemenangan penuh”, katanya memberi dorongan serangan besar ke benteng terakhir militan Hamas di Jalur Gaza.

Seorang pejabat senior Israel justru mempertanyakan apakah protes semacam itu berdampak pada negosiasi.

“Akankah demonstrasi membebaskan para sandera? Sayangnya tidak. Biarkan saja mereka berdemonstrasi”, ujarnya.(P-Jeffry W)

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini