NATO pertimbangkan serangan pendahuluan ke Rusia

Terkait

PRIORITAS, 2/12/25 (Brussel): North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara yang beranggotakan negara-negara di Eropa, mempertimbangan untuk melakukan ‘serangan pendahuluan’ ke Rusia.

Laporan terbaru yang diterima BeritaTakTikInfo.com.com, hari Selasa (2/12/25), Komite Militer NATO menyatakan serangan tersebut sebagai bagian dari tindakan ‘pre-emptive’ dan pendekatan lebih agresif,  untuk menghalangi niat presiden Rusia Vladimir Putin melakukan serangan terhadap aliansi pertahanan di Eropa.

Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone dari Italia,  mengatakan aliansi tersebut perlu mengadopsi sikap ‘menyerang’,  agar Rusia menyadari konsekwensi serangan perang hibrida seperti pesawat tak berawak dan siber di Eropa.

Laksamana Dragone berpendapat “serangan pendahuluan” NATO dapat dianggap sebagai tindakan defensif (pertahanan). “Meskipun tindakan tersebut “jauh dari cara berpikir dan perilaku normal kita”, jelasnya.

Ia mengakui pendekatan keras seperti itu tidak biasa bagi NATO, tetapi taktik baru itu mungkin diperlukan, karena perang Rusia dan Ukraina sudah akan memasuki tahun keempat.

Menurut dia, serangan agresif tersebut menjadi opsi bagi NATO, karena selama ini Rusia terkesan menganggap enteng pertahanan NATO di Eropa.

“Menjadi lebih agresif dibandingkan dengan agresivitas rekan kita bisa menjadi sebuah pilihan”, tegasnya seperti dilaporkan The Independent.

 

11 insiden

Investigasi Financial Times baru-baru ini mengungkap bagaimana NATO telah berada dalam siaga tinggi, setelah tiga kapal di Laut Baltik dituduh menyeret jangkar mereka,  dalam upaya merusak kabel energi dan komunikasi, dengan total 11 insiden tercatat.

Insiden lainnya termasuk seringnya serangan siber terhadap negara-negara Eropa dan serangan pesawat tak berawak Rusia ke wilayah udara NATO.

Laksamana Dragone mengatakan aliansi tersebut “mempelajari segalanya” dalam memutuskan cara menanggapinya.

“Di dunia maya, kami cenderung reaktif. Menjadi lebih agresif, atau bersikap proaktif alih-alih reaktif, adalah sesuatu yang sedang kami pikirkan,” ujarnya.

 

Trump setuju

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya sudah menyetujui NATO menembak jatuh setiap pesawat tempur Rusia yang menerobos wilayah udara negara NATO.

Penegasan Trump tersebut dikemukakan, ketika dia mengadakan pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di sela-sela Sidang Umum ke-80 PBB di New York, September 2025.

Sebelumnya tiga negara anggota NATO masing-masing Polandia, Rumania, dan Estonia melaporkan sejumlah pesawat, baik nirawak (drone) maupun jet tempur MiG 31 milik Rusia sengaja melanggar wilayah udara mereka.

Ketika ditanya wartawan apakah menurutnya negara-negara NATO harus menembak jatuh pesawat Rusia dalam situasi seperti itu?. “Ya, saya pikir begitu”, tegas Trump.

Trump juga menulis di Truth Social, Ukraina berada dalam posisi untuk berjuang dan akan memenangkan kembali seluruh Ukraina dalam bentuk aslinya.

“Dengan waktu, kesabaran, dan dukungan finansial dari Eropa dan, khususnya, NATO , perbatasan asli tempat Perang ini dimulai, sangatlah memungkinkan”, papar Trump.

Trump menyebut Rusia sedang menghadapi masalah ekonomi besar. “Inilah saatnya bagi Ukraina untuk bertindak,” tambah Trump.

 

Armada bayangan

Pada bulan Januari tahun ini, NATO meluncurkan Operasi Baltic Sentry, sebuah misi untuk meningkatkan patroli di kawasan tersebut dan mencegah kemungkinan serangan Rusia.

Operasi ini mencakup peningkatan jumlah pesawat patroli, kapal perang dan drone (pesawat nirawak).

Rusia tidak disebutkan secara langsung dalam pengumuman tersebut, tetapi Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan pada saat itu, aliansi tersebut akan meningkatkan pemantauannya terhadap “armada bayangan” Moskow.

Armada itu terdiri dari kapal-kapal tanpa kepemilikan jelas, yang digunakan untuk mengangkut minyak dari Rusia meski sudah dikenai sanksi.

Laksamana Dragone menambahkan ini merupakan langkah positif NATO untuk membuat kawasan lebih aman.

“Sejak awal Baltic Sentry, tidak ada yang terjadi. Jadi ini berarti pencegahan ini berhasil,” ujarnya.

Namun, masih ada kekhawatiran tentang apakah operasi ini sudah cukup jauh.

Pengadilan di Finlandia baru-baru ini membatalkan kasus terhadap seorang awak kapal armada bayangan, yang merusak kabel bawah laut di Teluk Finlandia, karena insiden tersebut terjadi di perairan internasional.

Pihak Rusia mengatakan pada hari Senin, pernyataan Laksamana Dragone sangat tidak bertanggung jawab dan merupakan upaya untuk bergerak menuju eskalasi (peningkatan ketegangan perang).

“Kami melihat adanya upaya yang disengaja untuk melemahkan upaya mengatasi krisis Ukraina. Orang-orang yang membuat pernyataan seperti itu harus menyadari risiko dan kemungkinan konsekuensinya, termasuk bagi anggota aliansi itu sendiri”, kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.(P-Jeffry W)

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini