Hadiah akhir tahun 2025 untuk Kota Palu, muara sungai menjadi ikon baru ‘Waterfront City Work’

Terkait

PRIORITAS, 31/10/25 (Palu): Akhir tahun 2025, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) akan memiliki ikon baru. Muara Sungai Palu pascagempa, tsunami dan likuefaksi dahsyat pada enam tahun lalu (28 September 2018), kini diubah menjadi objek wisata yang diberi nama “Waterfront City Work”.

Hasil kerja ini merupakan kolaborasi antara Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Sulawesi Tengah, dan Pemerintah Kota Palu, dalam upaya penataan Palu sebagai kota industri dan pariwisata.

PPK Sungai dan Pantai 1, SNVT PJSA Sulteng, BWS Sulawesi III Palu, Hariady Indra Mantong, S.T., M.Sc, mengatakan paket ini merupakan “countermeasure likuifaksi” (penanggulanan likuifaksi). Akhir Desember 2025 proyek yang dikerjakan kontraktor penyedia PT Selaras Mandiri Sejahtera  (SMS) itu akan rampung.

Menurut Hariady, desain proyek ini diselaraskan dengan permohonan Walikota Palu, Hadianto Rasyid, yang akan menjadikan Teluk Palu sebagai salah satu kawasan wisata. Oleh karena itu, paket proyek ini bukan hanya sebagai pengendali tsunami namun akan ditata sebagai salah satu landscape ikon Kota Palu sebagai “Waterfront City”.

“Saat paket proyek hendak dikerjakan ada permintaan Walikota Palu Hadianto Rasyid SE kepada pihak BWSS III Sulteng bahwa pihaknya sedang menata kota Palu sebagai ‘Waterfront City’,” kata Hariadi Mantong menjawab BeritaTakTikInfo.com Kamis (30/10/25) lewat pesan WhatsApp.

Dikatakan, walikota meminta agar paket proyek ini juga memperhatikan segi estetika sehingga nantinya  bisa jadi sebuah landmark yang membanggakan dan mempercantik wajah Kota Palu sebagai kota pariwisata.

Palu memiliki keistimewaan

Sementara itu, Kasatker SNVT Pelaksana Jaringan Sumber Air BWSS III, H Muhamad Ismaun ST, MT, membenarkan ada kerja sama yang baik antara BWSS II Sulteng dan Pemkot Palu. Kerjasama terkait upaya  menjadikan muara Sungai Palu sebagai “Waterfront City Work”.

Ada pun kerjasama tersebut, katanya, direalisasikan melalui paket proyek pekerjaan Paket Proyek River Improvement in Palu City Area (Downstream of Palu River Considering Tsunami Countermeasures, Ngia River, Kawatuna River).

“Kota Palu yang berada di teluk tepi laut merupakan kawasan fokus pengembangan infrastruktur sebagai ibu kota pusat pemerintahan daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Palu memiliki keistimewaan karena terdapat sungai mengalir membelah kota ini bagian timur dan bagian barat, berpeluang mengembangkan wisata tepi laut, sangat strategis memacu  pertumbuhan ekonomi,” kata Muhamad Ismaun kepada BeritaTakTikInfo.com.

Disebutkan dengan memanfaatkan keindahan alam Sungai Palu, kota ini dapat mempromosikan pariwisata, mendukung bisnis lokal, dan meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

Pembangunan Palu Water Front City meliputi penataan muara sungai Palu  terdiri atas pembangunan tanggul tsunami sepanjang 800 meter dan tanggul sungai 800 meter. Selain itu dilakukan pembangunan kolam retensi dengan kapasitas 1.500 m3, pembangunan lapangan mini soccer dan landscape-nya, serta pembangunan shelter tsunami.

“Ada beberapa fitur potensial guna pengembangan tepi laut Teluk Palu sebagai tempat rekreasi (yaitu) pemanfaatan area tepi laut sebagai hunian dengan pemandangan air, serta pengembangan multiguna dengan fasilitas komersial dan sosial,” ujar Ismaun.

Konservasi Lingkungan, kata Ismaun, dibutuhkan menjadikan muara sungai dan teluk Palu pusat pertumbuhan ekonomi, dengan menata badan tanggul sungai dengan membangun fasilitas infrastruktur komersial pusat kuliner, juga peluang bagi bisnis dan kewirausahaan lokal serta pemberdayaan UMKM.

Lima dimensi 

Di lain pihak, Guru Besar Ekonomi Bisnis Untad Palu, Prof Moh Ahlis Djirimu Ph.D, menyebut kolaborasi BWSS III Sulteng dan Pemkot Palu menata kota mengandung lima dimensi. Kelimanya adalah Palu sebagai kota teluk, kota lembah, kota diapit pegunungan, kota sungai,  dan kota dengan hembusan angin. Itu, katanya,  mengingatkan dirinya pada Kota Nice atau Nisa French Riviera la Cote d’Azur di Prancis.

Diterangkannya, secara substansif, sumber pembiayaan bagi kota yang mengoptimalkan potensi lima dimensi tadi, ada di BWSS Wilayah III  melalui paket countermeasure likuifaksi (penanggulanan likuifaksi) yang dibiayai dana loan JICA Japan.

“Sebaiknya Pemkot tidak hanya fokus pada penyediaan tempat kuliner, tetapi hal lalinnya, perilaku bersih hidup sehat, pokoknya fokus saja pada well-educated pedagangnya,” ujar Ahlis Djirimu.

Saat BeritaTakTikInfo.com melihat langsung ke lokasi pekerjaan didampingi penyedia paket proyek PT SMS, Project Manager Andi ST, dan Site Manager Danang Supriyanto,  paket proyek sedang dalam pangerjaan tahap akhir.

Menurut Andi, progres pekerjaan saat ini kini telah mencapai 94 persen, dan ditargetkan rampung pada Desember 2025. Proyek ini menjadi salah satu program strategis pemerintah menanggulangi luapan Sungai Palu yang dipicu pasang surut laut dan curah hujan tinggi, terutama di wilayah bantaran Sungai Palu, Kelurahan Baru, RT 1, 2, dan 3.

“Masalah banjir tidak bisa dianggap sepele. Jika bencana datang sementara warga belum siap, akan sangat berisiko. Karena itu pemerintah membangun tanggul sebagai langkah pengendalian. Proyek ini didesain oleh konsultan berpengalaman dan tervalidasi kemampuannya, sehingga keamanan konstruksi bisa dipertanggung jawabkan,” kata Andi di lokasi proyek pada Rabu (29/10/25). (P-Elkana Lengkong)

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini