Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar Kunjungi Mansai Kitchen and Bar di Kinilow-Tomohon

Terkait

Foto Kiri: Wamen Ekonomi Kreatif Irene Umar (Baju Hitam/Ditengah) Bersama Pemilik Mansai Kitchen and Bar, Prof K.W.A.Masengi dan Ixchel Mandagi, SPi, MSi, PhD



TAKTIKINFO – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar bersama rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang berkesempatan menikmati makan malam di Mansai Kitchen and Bar, Kinilow, Tomohon, Jumat, 7 Agustus 2026.

Kunjungan ke Mansai Kitchen and Bar Kinilow ini dilakukan Irene Umar disela-sela rangkaian kunjungan dalam Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 yang dimulai Jumat 7 Agustus 2026.

Kunjungan ini memiliki makna yang menarik apabila dilihat dari perspektif pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis pengalaman. TIFF 2026 sendiri berlangsung 7–12 Agustus 2026 dan mengusung tema “Collaboration of Spirit”.

Pemerintah Kota Tomohon juga menempatkan TIFF sebagai momentum untuk memperkuat pariwisata, UMKM, perdagangan, investasi, dan ekonomi kreatif.

Yang menarik, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif sebelumnya memang telah membahas pengembangan TIFF 2026 agar tidak hanya menjadi festival bunga, tetapi berkembang menjadi platform ekonomi kreatif berbasis florikultura dan kekayaan intelektual daerah (Regional IP).

Dalam konteks tersebut, pengalaman makan malam di Mansai Kitchen and Bar dapat menjadi contoh kecil tetapi nyata mengenai bagaimana sebuah restoran dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif daerah.

Mengapa Mansai menarik bagi rombongan Wamen Ekonomi Kreatif?

Ada beberapa alasan yang sangat kuat.
1. Bukan sekadar restoran, tetapi sebuah experience.

Mansai Kitchen and Bar menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.

Ruang makan berada dalam lingkungan yang hijau, asri dan sejuk, dengan elemen air dan kolam ikan yang mengelilingi kawasan. Kehadiran pepohonan, batu alam, air, kolam ikan, pencahayaan malam dan bangunan bergaya natural menciptakan suasana yang berbeda dari restoran konvensional.

Dengan demikian, pengunjung tidak hanya membeli makanan, tetapi membeli pengalaman.

Inilah salah satu prinsip penting dalam ekonomi kreatif modern: produk menjadi lebih bernilai ketika dikemas menjadi pengalaman yang memiliki karakter dan cerita.

2. Perpaduan Jepang, China, Western dan kuliner lokal

Keunikan lain adalah keberanian Mansai memadukan beberapa tradisi kuliner:

Japanese – Chinese – Western – Local/Minahasa.

Perpaduan tersebut memungkinkan satu tempat melayani berbagai selera pengunjung, termasuk wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Namun yang lebih penting adalah bagaimana berbagai pengaruh tersebut tidak harus menghilangkan identitas lokal.

Justru kuliner lokal dapat ditempatkan berdampingan dengan kuliner Jepang, China dan Western sehingga menciptakan sebuah pengalaman gastronomi yang lebih luas.

Dalam konteks Tomohon sebagai destinasi internasional, pendekatan seperti ini memiliki potensi besar.

3. Suasana sejuk Kinilow menjadi bagian dari produk wisata

Keunggulan Mansai juga tidak dapat dipisahkan dari lingkungan geografis Kinilow dan Tomohon. Udara pegunungan yang relatif sejuk, vegetasi yang hijau, air, kolam ikan dan suasana malam yang tenang memberikan sense of place yang kuat.

Dengan demikian, alam Tomohon sendiri menjadi bagian dari produk ekonomi kreatif.
Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga untuk: menikmati udara sejuk; menikmati taman; melihat air dan ikan; bersantai; berbincang; berfoto; menikmati desain ruang; dan merasakan suasana khas Kinilow.

Ini merupakan konsep nature-based culinary experience yang sangat potensial dikembangkan.

4. Sangat sesuai dengan arah pengembangan TIFF

Hal ini menjadi semakin relevan karena Kementerian Ekonomi Kreatif melihat TIFF bukan hanya sebagai festival bunga, tetapi sebagai platform pengembangan ekonomi kreatif dan IP daerah.

Artinya, pengalaman wisatawan selama berada di Tomohon harus diperluas di luar lokasi festival.
Wisatawan yang datang karena TIFF perlu memiliki alasan untuk:

datang → tinggal lebih lama → makan → berbelanja → menikmati atraksi → mengunjungi destinasi lain → kembali lagi.
Restoran seperti Mansai dapat menjadi salah satu mata rantai dalam ekosistem tersebut.
Kesan Rombongan: Makanan Enak, Asri dan Sejuk.
Setelah menikmati makan malam, rombongan menyampaikan kesan positif terhadap pengalaman mereka.
Makanan dinilai sangat enak, suasananya asri dan sejuk, serta lingkungan restoran yang dikelilingi air dan kolam ikan memberikan pengalaman yang menyenangkan.
Kesan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa daya tarik sebuah destinasi kuliner tidak hanya ditentukan oleh rasa makanan.
Ada sedikitnya empat komponen yang bekerja secara bersamaan:

Taste + Atmosphere + Nature + Hospitality, atau: Rasa + Suasana + Alam + Pelayanan.

Keempat unsur tersebut kemudian menghasilkan memorable experience—pengalaman yang mudah diingat oleh pengunjung.

Momen Bersama Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI

Salah satu momen yang berkesan adalah ketika pemilik dan pengelola Mansai Kitchen and Bar berkesempatan berpose bersama Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar.

Dalam foto tersebut tampak suasana informal dan hangat setelah makan malam.

Bagi Mansai Kitchen and Bar, kunjungan tersebut bukan hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga dapat menjadi momentum penting untuk memperkenalkan konsep restoran kepada jejaring ekonomi kreatif nasional.

Pemilik:
Prof. Ir. Kawilarang W. A. Masengi, MSc., PhD dan Ixchel Mandagi, S.Pi., M.Si., PhD. Manajer:
Etsuko Itsumi Gabriella Masengi, A.P.T., S.Far.

Kehadiran mereka bersama rombongan Wamen Ekonomi Kreatif menjadi simbol bahwa usaha kuliner daerah dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar mengenai masa depan ekonomi kreatif Indonesia.

Dari Restoran Menuju Creative Destination.
“Menurut saya, justru di sinilah potensi terbesar Mansai,” ujar salah satu pengunjung.

Mansai bukan hanya diposisikan sebagai: “Cafe and Restaurant.” Tetapi dapat dikembangkan sebagai:“Japanese–Chinese–Western–Minahasa Culinary & Nature Experience.”

Atau lebih kuat: “Mansai Kinilow – Culinary, Garden & Water Experience.” Dengan konsep tersebut, restoran dapat menjadi salah satu contoh creative destination di Tomohon. Pengalaman pengunjung kemudian dapat diperluas dengan:

Kuliner → Taman → Air → Ikan → Arsitektur → Budaya → Fotografi → Musik → Produk kreatif → Kuliner lokal.

Ini sejalan dengan arah kebijakan ekonomi kreatif yang sedang mendorong agar event seperti TIFF menghasilkan nilai ekonomi yang lebih luas bagi pelaku kreatif dan masyarakat lokal.

Sebuah peluang yang lebih besar

Kunjungan Wamen Ekraf dan rombongan sekitar 20 orang tersebut dapat menjadi momentum strategis bagi Mansai Kitchen and Bar untuk mengembangkan konsepnya lebih jauh.

Bukan hanya tempat makan, tetapi menjadi salah satu contoh destinasi gastronomi dan eco-lifestyle di Kinilow yang menggabungkan:

Japanese aesthetics + Chinese culinary heritage + Western cuisine + Minahasa local food + tropical nature + water landscape + hospitality.

Dan yang paling penting, semuanya berada dalam udara sejuk Tomohon.

“Di Mansai, pengunjung tidak hanya datang untuk makan. Mereka datang untuk merasakan Tomohon.”

Kalimat tersebut menurut saya sangat cocok menjadi positioning statement Mansai Kitchen and Bar Kinilow. Mansai Kitchen and Bar Kinilow — Where Culinary Meets Nature, Culture & Creative Experienced.

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini