Israel tetap tidak bebaskan narapidana ‘Ace’ Palestina

Terkait

PRIORITAS, 10/10/25 (Jerusalem): Israel tetap menolak permintaan mediator militan Hamas yang menuntut pembebasan empat narapidana ‘Ace’ (As) Palestina yang masuk kategori berbahaya.

Perwakilan militan Hamas sebelumnya bersikeras menuntut pembebasan empat narapidana ‘Ace’ Palestina sebagai syarat kesepakatan gencatan senjata tahap pertama.

Mereka itu adalah Marwan Barghouti, Ahmad Saadat, Abbas al-Sayed dan Abdullah Barghouti. Israel juga menolak membebaskan teroris Ibrahim Hamed dan Hassan Salameh.

Menurut sumber, Israel memveto permintaan militan Hamas tersebut dalam negosiasi di Sharm el Sheikh di Mesir.

Seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari sejumlah media Israel, hari Jumat (10/10/25), pemerintah Israel menilai pembebasan para napi  ‘Ace’ Palestina itu dapat mengancam Israel di kemudian hari.

Sebagai contoh pembebasan Yahya Sinwar dari penjara Israel dalam kesepakatan Gilad Shalit tahun 2011. Ia kemudian ia menjadi pemimpin utama militan Hamas di Jalur Gaza.

Yahya Sinwar akhirnya menjadi dalang serangan brutal ke Israel Selatan 7 Oktober 2023 lalu, yang menyebabkan 1200 orang Israel tewas dan 250 lainnya diculik dan disandera di Jalur Gaza.

Peristiwa itulah yang memicu Israel melakukan serangan balasan besar-besaran ke Jalur Gaza dan menewaskan lebih dari 67.175 orang warga Palestina Gaza tewas.

Militer Israel akhirnya berhasil membunuh Yahya Sinwar, ketika ia bersembunyi di sebuah rumah dua lantai di Kota Gaza, Oktober 2024 lalu. Mayatnya kemudian diambil dan disembunyikan militer Israel hingga kini.

Marwan Barghouti

Marwan Barghouti.(x.@newsisrael13)

Marwan Barghouti dikenal sebagai tokoh intifada. Ia terlibat dalam serangan teror selama Intifada Kedua yang menewaskan 5 orang. Ia dijatuhi hukuman 5 kali penjara seumur hidup dan kini sudah menjalani 23 tahun di penjara Israel, seperti dirilis Ynetnews.

Pihak lain mengklaim ia adalah “Arafat mini”, yang loyalitasnya terletak pada militerisme, dan yang pasti akan melancarkan perjuangan keras setelah dibebaskan.

Barghouti merupakan simbol nasional sekaligus misteri. Pemimpin berusia 65 tahun ini, yang lahir di Kufr Kobar, sebuah desa dekat Ramallah.

Ia mewakili generasi yang tumbuh di Tepi Barat dan Jalur Gaza selama tahun 1970-an dan 1980-an. Ia membentuk alternatif menantang bagi generasi pendiri yang dipimpin Yasser Arafat, yang datang dari Tunisia dan mengambil alih Otoritas Palestina.

Seperti banyak rekannya, ia juga mengenal Israel dengan baik dan berbicara bahasa Ibrani.

Kekhawatiran utama Israel jika Barghouti dibebaskan adalah ia akan menggunakan kebebasannya untuk mendorong kekerasan. Penilaian itu didasarkan, antara lain, pada pernyataan-pernyataan yang ia keluarkan selama di penjara yang mengagungkan perjuangan bersenjata.

Ahmad Saadat

Sekretaris jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) ini, dihukum karena merencanakan pembunuhan Menteri Pariwisata Israel, Rehavam Ze’evi, pada tahun 2001.

Setelah pembunuhan Ze’evi, Saadat melarikan diri ke kompleks Yasser Arafat di Ramallah, tempat Arafat menolak menyerahkannya.

Israel merespons dengan mengepung kompleks tersebut. Setelah mediasi AS dan Inggris, Saadat akhirnya ditahan di penjara Palestina di Jericho yang dijaga sipir Amerika dan Inggris.

Setelah kemenangan militan Hamas dalam pemilu 2006, pasukan Israel menangkapnya dan membawanya ke penjara di Israel.

Pada tahun 2008, ia dijatuhi hukuman 30 tahun penjara. Israel menolak membebaskannya dalam perjanjian pertukaran Gilad Shalit tahun 2011.

Abbas al-Sayyed

Abbas al-Sayyed. (ynetnews)

Perencana utama pengeboman Paskah tahun 2002 di Park Hotel di Netanya yang menewaskan 30 orang

Ia dijatuhi hukuman 35 hukuman seumur hidup atas pembunuhan warga Israel. Al-Sayyid adalah pemimpin Hamas di Tulkarem saat Intifada Kedua meletus.

Abdullah Barghouti

Abdullah Barghouti (ynetnews)

Seorang anggota militan Hamas dan mantan komandan sayap militer kelompok tersebut di Tepi Barat.

Ia menjalani 67 hukuman seumur hidup—hukuman kumulatif terpanjang yang pernah dijatuhkan di Israel—atas perannya dalam beberapa pengeboman mematikan di awal tahun 2000-an.

Militan Hamas tidak berhasil membebaskannya dalam kesepakatan Shalit tahun 2011 lalu.

Ibrahim Hamed

Ibrahim Hamed. (ynetnews)

Mantan komandan Brigade Izz ad-Din al-Qassam Hamas di Tepi Barat, digambarkan oleh pejabat keamanan Israel sebagai dalang di balik 90 persen bom bunuh diri selama Intifada Kedua tahun 200 dan 2005.

Hamed, ditangkap dan dihukum karena membunuh 46 warga Israel dan melukai ratusan lainnya. Ia menjalani 54 hukuman seumur hidup

Militan Hamas telah lama mengupayakan pembebasan Hamed. Para pendukungnya memandangnya sebagai simbol perlawanan yang menonjol.

Namun para kritikus Israel memperingatkan pembebasannya akan memicu serangan lebih lanjut.

Sumber-sumber keamanan mengatakan Hamed adalah orang dengan kemampuan seperti Yahya Sinwar dan bahkan lebih.

Hassan Salameh

Seorang komandan militan Hamas yang dilatih Hizbullah dan Garda Revolusi Iran.

Salameh mengorganisir gelombang pengeboman balas dendam setelah pembunuhan terhadap pembuat bom militan Hamas Yahya Ayyash pada tahun 1996, yang menewaskan puluhan warga Israel.

Ia ditangkap di Hebron akhir tahun itu dan dijatuhi hukuman 46 hukuman seumur hidup.

Syarat kesepakatan

Syarat kesepakatan gencatan senjata fase pertama, Israel akan dibebaskan sebanyak 250 teroris Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup.

Selain itu  akan dibebsakan juga 1.700 penduduk Jalur Gaza yang ditahan setelah pembantaian 7 Oktober 2023,  yang tidak terlibat dalam serangan tersebut, bersama dengan 22 anak di bawah umur dari Gaza.

Menurut keputusan resmi dalam 72 jam setelah selesainya persiapan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), 20 sandera Israel yang masih hidup dan 28 sandera yang telah meninggal akan dibebaskan miltan Hmas dari Jalur Gaza ke Israel, termasuk empat sandera yang telah meninggal yang bukan warga negara Israel.

Semua sandera yang masih hidup dan yang telah meninggal akan diserahkan kepada pasukan keamanan Israel.

Israel juga akan menyerahkan jenazah 360 teroris ke Gaza, dengan rasio 15 teroris untuk setiap sandera Israel yang tewas.

Jika Hamas mengembalikan lebih sedikit jenazah, Israel akan menyesuaikan jumlahnya. Semua pembebasan narapidana Palestina termasuk jenazah, akan dilakukan hanya setelah para sandera Israel dikembalikan.

Tidak ke Jalur Gaza

Pejabat keamanan Israel memperingatkan membebaskan para tahanan Palestina ke Jalur Gaza atau ke luar negeri, dapat memperkuat kepemimpinan kelompok tersebut dan menghalangi kemampuan Israel untuk memantau mereka.

Para pejabat merekomendasikan agar beberapa tahanan dibebaskan saja ke Tepi Barat bukan ke Jalur Gaza.

Ini dimaksudkan agar pasukan Israel dapat dengan mudah melacak pergerakan dan menangkap mereka kembali jika kembali melakukan terorisme.

Mereka memperingatkan jika para teroris yang dibebaskan—termasuk anggota senior militan Hamas dan kelompok lainnya—dikirim Jalur Gaza, mereka dapat membantu membangun kembali struktur komando Hamas, yang sebagian besar telah dibongkar selama perang.

Para pejabat juga memperingatkan mendeportasi para teroris ke luar negeri juga dapat terbukti kontraproduktif.

Para teroris yang dibebaskan diperkirakan akan menetap di Qatar atau Turki, negara-negara terkait dengan Ikhwanul Muslimin, yang mendukung militan Hamas.

Deportasi semacam itu, kata mereka, akan memberikan para teroris kekebalan praktis dari upaya pembunuhan Israel di masa mendatang.

Menurut Otoritas Palestina, Israel saat ini menahan 117 tahanan Palestina berusia 60 tahun ke atas, termasuk 13 tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup.

Sebanyak 250 dari 270 teroris Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup di Israel akan dibebaskan.

(P-Jeffry W)

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini