PRIORITAS, 4/12/25 (Canberra): Meta Platform Inc. mulai menghapus sekitar setengah juta akun Instagram dan Facebook milik anak-anak Australia berusia di bawah 16 tahun.
Informasi yang diperoleh BeritaTakTikInfo.com.com, menyebutkan proses penghapusan dimulai dengan menutup ribuan akun pada hari Kamis ini (4/12/25), seminggu sebelum batas waktu larangan media sosial, yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.
Sekitar 96 persen remaja Australia di bawah 16 tahun atau lebih dari satu juta dari 27 juta penduduk negara itu, memiliki akun media sosial, menurut eSafety.
Meta Platform Inc sebagai pemilik Instagram, Facebook dan Threads, mengatakan pihaknya juga memblokir pembuatan akun baru bagi pengguna di bawah 16 tahun di Australia, sebagai bagian dari upaya untuk mematuhi hukum.
“Meskipun kami berupaya keras untuk menghapus semua pengguna yang kami ketahui berusia di bawah 16 tahun paling lambat 10 Desember, kepatuhan terhadap hukum akan menjadi proses yang berkelanjutan dan berlapis,” ujar juru bicara Meta seperti dilaporkan The Independent.
Meta menyebutkan anak-anak berusia di bawah 16 tahun, hanya dapat menyimpan dan mengunduh riwayat digital di Instagram, Threads, dan Facebook.
“Sebelum Anda berusia 16 tahun, kami akan memberi tahu Anda bahwa Anda akan segera diizinkan untuk mengakses kembali platform ini, dan konten Anda akan dipulihkan persis seperti saat Anda meninggalkannya”, jelas juru bicara Meta.
Negara pertama
Australia tahun lalu menjadi negara pertama di dunia yang mengesahkan undang-undang melarang anak-anak dan remaja di bawah 16 tahun menggunakan media sosial.
Larangan ini mulai berlaku pada 10 Desember 2025, dan perusahaan-perusahaan aplikasi media sosial terancam denda hingga A$49,5 juta (£25 juta) jika tidak mematuhinya.
Langkah ini telah memicu perdebatan sengit di dalam dan luar negeri.
Namun pemerintah Australia membela tindakan tersebut, sebagai langkah yang diperlukan untuk melindungi kaum muda dari bahaya media sosial.
Para kritikus – termasuk remaja – berpendapat larangan tersebut “inkonstitusional” dan melanggar hak mereka untuk berkomunikasi secara bebas.
Regulator internet Australia mengatakan larangan tersebut akan menjadi domino pertama yang jatuh dalam upaya global untuk mengendalikan Big Tech.
Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, mengatakan ia awalnya khawatir dengan pendekatan “keras”, yang memblokir anak di bawah 16 tahun dari media sosial. Tetapi kemudian mendukungnya setelah perubahan regulasi bertahap terbukti tidak efektif.
“Kita telah mencapai titik kritis,” kata Inman Grant di Dialog Sydney, sebuah konferensi tingkat tinggi siber.
“Data kita adalah mata uang yang menggerakkan perusahaan-perusahaan ini, dan ada fitur-fitur desain yang kuat, berbahaya, dan menipu yang bahkan orang dewasa pun tak berdaya melawannya. Apa peluang yang dimiliki anak-anak kita?”, katanya.
Ia menilai pemerintah di seluruh dunia tengah mengamati dengan saksama, ketika undang-undang Australia tersebut mulai berlaku.
“Saya selalu menyebut ini sebagai domino pertama, itulah sebabnya mereka [raksasa media sosial] melawannya”, jelas dia.
Disambut baik keluarga
Banyak keluarga di Australia menyambut baik adanya larangan penggunaan medsos bagi anak-anak tersebut.
Seorang ibu di Sydney, menyambut baik keputusan Meta yang menghapus akun Instagram dan Facebook anak-anak di bawah umur itu.
“Ini hal yang luar biasa, dan saya senang tekanan terhadap orang tua berkurang, karena banyak sekali implikasinya terhadap kesehatan mental,” kata Jennifer Jennison.
“Beri anak-anak saya waktu istirahat sepulang sekolah – mereka bisa beristirahat dan berkumpul dengan keluarga”, pintanya.
Selain Facebook, Instagram, Threads, situs web media sosial yang terkena dampak larangan tersebut adalah TikTok, Snapchat, X, Reddit, Kick, Twitch dan YouTube.
Dua remaja, yang dipimpin Digital Freedom Project, telah menentang larangan media sosial bagi anak-anak tersebut.
Mereka mengatakan undang-undang yang memberlakukan larangan tersebut “sangat berlebihan” dan melanggar “hak konstitusional kebebasan komunikasi politik”.
Meski begitu, pemerintah Australia bergeming menghadapi kritikan dan tetap menerapkan aturan baru itu.(P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














