PRIORITAS, 9/8/25 (Tokyo): Jumlah polulasi penduduk asli Jepang makin sedikit pada tahun 2025 ini, karena angka pernikahan dan kelahiran menurun jauh. Sebaliknya jumlah orang asing yang menjadi penduduk di Jepang malah bertambah naik.
Data terbaru seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Kyodo News, hari Sabtu (9/8/25), penduduk asli Jepang turun sekitar 908.000 jiwa menjadi 120.653.227 jiwa.
Penurunan ini merupakan yang ke-16 kalinya berturut-turut dan merupakan jumlah terbesar sejak survei ini dimulai pada tahun 1968, menurut data pemerintah Jepang.
Angka-angka terbaru muncul saat para pembuat kebijakan terus berjuang untuk membalikkan penurunan angka kelahiran dan depopulasi regional.
Sebaliknya, Â jumlah penduduk asing di negara ini memecahkan rekor, mencapai angka tertinggi 3.677.463 jiwa pada 1 Januari 2025. Jumlah mereka naik 354.089, sehingga menjadi 3 persen dari total populasi di Jepang.
Berdasarkan prefektur, pulau utama paling utara Hokkaido mengalami peningkatan penduduk asing terbesar sebesar 19,57 persen.
Sekitar 85,77 persen penduduk asing berada dalam usia kerja, dan banyak di antaranya mengisi kekurangan tenaga kerja yang ditinggalkan akibat menurunnya jumlah penduduk asli.
Warga Jepang cemas
Tingkat kecemasan meningkat di kalangan warga Jepang atas rekor jumlah penduduk asing, sehingga mendorong beberapa pemilih untuk beralih ke partai oposisi dengan menggembar-gemborkan slogan-slogan seperti “Japanese First” (Utamakan Jepang).
Per 1 Januari 2025 saja, populasi warga Jepang termasuk penduduk asing adalah 124.330.690, turun sekitar 554.000, menurut survei demografi oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi.
Kelahiran pada tahun 2024 mencapai rekor terendah hanya 687.689 jiwa.
Prefektur Akita dan Aomori di Jepang timur laut mengalami penurunan populasi penduduk asli terbesar, masing-masing sebesar 1,91 persen dan 1,72 persen, diikuti Prefektur Kochi di Jepang barat sebesar 1,71 persen. Total penurunan nasional adalah 0,75 persen.
Hanya Tokyo satu-satunya wilayah yang mengalami peningkatan populasi penduduk asli Jepang, meskipun hanya naik sedikit 0,13 persen, karena arus masuk yang tinggi ke ibu kota.
Jika penduduk asing juga dimasukkan, peningkatan populasi secara keseluruhan hanya terjadi di Tokyo dan Prefektur Chiba yang berdekatan.
Berdasarkan usia, penduduk berusia 65 tahun ke atas mencakup 29,58 persen dari populasi Jepang.
Sementara penduduk berusia 15 hingga 64 tahun mencakup sekitar 59,04 persen, keduanya merupakan peningkatan kecil dari tahun sebelumnya.
Meninggal lebih banyak
Media The Independent menyebut, Jepang mengalami jumlah kematian lebih banyak daripada kelahiran, karena krisis demografi semakin dalam.
Jepang adalah negara Asia yang mengalami penurunan populasi tahunan tertajam yang pernah tercatat selama beberapa dekade ini.
Data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi menunjukkan sejak 1899 sebanyak 1,59 juta kematian, sehingga total populasi menjadi 124,33 juta.
Menyusutnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun telah menimbulkan kecemasan atas menurunnya jumlah tenaga kerja yang dapat berdampak serius terhadap perekonomian negara dan mengancam keamanan nasional.
Kota-kota dan desa-desa di Jepang menjadi kosong dalam jumlah yang memecahkan rekor, dengan hampir empat juta rumah ditinggalkan selama dua dekade terakhir.
Orang muda enggan menikah
Jepang tidak hanya bergulat dengan penurunan populasi, tetapi juga penduduk yang menua. Hampir tiga dari 10 orang kini berusia 65 tahun atau lebih.
Pada tahun 2070, empat dari 10 orang diproyeksikan berusia di atas 65 tahun, dan total populasi diperkirakan akan turun menjadi hanya 87 juta jiwa.
Perdana Menteri Jepang menyebut krisis demografi ini sebagai “darurat yang tenang”.
Ia menjanjikan layanan penitipan anak gratis untuk membantu pasangan suami istri menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak.
Namun, sebagian besar upaya untuk membalikkan tren rendahnya angka kelahiran, sejauh ini belum mencapai kemajuan berarti.
Para ahli mengatakan tindakan pemerintah sebagian besar berfokus pada pasangan yang sudah menikah dan mengabaikan jumlah anak muda yang enggan menikah.
Para ahli menunjukkan, generasi muda semakin enggan menikah atau memiliki anak, karena prospek pekerjaan yang suram. Saat ini biaya hidup semakin tinggi di Japang, dan budaya perusahaan yang menambah beban ekstra bagi wanita dan ibu pekerja.(P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














