PRIORITAS, 30/10/25 (Rio de Janeiro): Hari paling berdarah dalam sejarah di Brazil. Serangan polisi terhadap geng Comando Vermelho (CV) di favela Complexo da Penha dan Complexo do Alemão di Rio de Janeiro, mengakibatkan 132 orang tewas.
Menurut informasi yang dirangkum BeritaTakTikInfo.com.com dari media lokal, Rio Times dan Brazil Report, hari Kamis (30/10/2025), jumlah orang tewas dalam serangan mematikan polisi itu, lebih dari dua kali lipat dari angka 64 korban yang disebut gubernur Rio de Janeiro, Cláudio Castro.
“Jumlah korban telah meningkat menjadi 132 orang tewas”, kata kantor pembela umum yang menyediakan bantuan hukum bagi warga miskin.
Gubernur Castro mengatakan pihaknya sengaja melakukan operasi penggerebegan pada Selasa 28 Oktober 2025.
Operasi besar-besaran itu melibatkan sekitar 2.500 agen dari militer dan kepolisian sipil, bersama dengan jaksa dari Kelompok Aksi Khusus untuk memerangi kejahatan terorganisir.

Tetapi para warga prihatin polisi tidak pernah memberikan peringatan kepada para kelompok geng tersebut, untuk menyerahkan diri atau berdialog secara damai dengan pemerintah.
Warga di sekitar lokasi justru terkejut ketika pasukan polisi tiba-tiba sudah datang dengan persenjataan lengkap dan melakukan tembakan ke sejumlah bangunan.
Mereka memasuki rumah dan bangunan, kemudian langsung menembak orang-orang yang ada di dalam. Mayat-mayat bergelimpangan.
Laporan resmi kepolisian menyebutkan hanya 64 korban tewas, termasuk empat petugas. Namun, warga menemukan sekitar 70 jenazah lain di kawasan hutan Serra da Misericórdia pada dini hari 29 Oktober.
Warga membawa puluhan jasad itu ke alun-alun setempat untuk identifikasi keluarga.
Para korban tersebut diduga ditangkap dan sengaja dieksekusi aparat bersenjata di tengah hutan.
Pembantaian
Para aktivis kemanusiaan menggambarkan kejadian ini sebagai sesuatu pembantaian berdarah, yang belum pernah terjadi sebelumnya di Brazil.
Mereka menyoroti serangan aparat bersenjata di komunitas lebih dari 100.000 orang penduduk yang dilanda kemiskinan.
Pihak kepolisian berdalih, para anggota geng tidak mau menyerah dan membalas tembakan aparat, sehingga terjadi aksi saling serang yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Polisi menyebut aparat bersenjata menangkap 81 orang anggota geng dan menyita 42 senapan serbu, granat, dan amunisi. Selain itu ikut disita 200kg narkoba, ditemukan di favela Penha
Sebagai balasan, anggota geng membakar kendaraan dan mendirikan barikade, melumpuhkan jalan-jalan utama seperti Avenida Brasil dan Linha Amarela selama lebih dari 12 jam.
Sebanyak 71 bus dibajak sehingga menghentikan 204 jalur bus dan memaksa warga berjalan kaki beberapa kilometer pulang.
Minta bantuan tank
Gubernur Rio de Janeiro, Cláudio Castro, meminta dukungan kendaraan lapis baja atau tank federal dari Angkatan Bersenjata. Namun, Kementerian Pertahanan menolak tanpa adanya dekrit presiden tentang Jaminan Hukum dan Ketertiban.
Mereka menyebutkan risiko hukum dan pelatihan tempur perkotaan yang tidak memadai bagi pasukan.
Hal ini menggarisbawahi ketegangan yang terus berlanjut antara otoritas negara bagian dan federal dalam menangani kekerasan yang terus berlanjut di Rio Janeiro.
Gubernur mengatakan, pasukan keamanan memang telah melancarkan serangan terkoordinasi terhadap anggota Comando Vermelho (CV) atau Komando Merah.
Castro mengatakan seorang pria bernama Doca telah ditangkap. Ia diduga sebagai salah satu pemimpin geng CV.

Geng CV memang dikenal sebagai kelompok kejahatan terbesar di Brasil, yang didirikan pada tahun 1970-an.
Mereka mendominasi perdagangan narkoba dan penyelundupan senjata di wilayah tersebut, yang sering memicu perang teritorial dengan para pesaingnya.
Comando Vermelho dianggap sebagai organisasi kriminal terbesar kedua di Brasil, dengan anggota sekitar 30.000 orang.
Presiden terkejut
Menurut menteri kehakiman Brasil, Presiden merasa “terkejut” dan juga mengungkapkan keheranannya pemerintah federal tidak diberitahu sebelumnya.
Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengatakan pihaknya “ngeri” adanya operasi polisi di Rio de Jaeior tersebut.
Gubernur Castro mengatakan serangan aparat itu didasarkan pada investigasi selama satu tahun dan perencanaan selama 60 hari. “Ini operasi terbesar dalam sejarah pasukan keamanan Rio,” kata Castro.
Di media sosial beredar berbagai video yang menunjukkan sebagian kompleks favela Alemao dan Penha di pinggiran kota terbakar.
Kepulan asap tebal membubung ke angkasa dan suara tembakan terdengar di kejauhan.
Video yang dibagikan gubernur juga menunjukkan geng Comando Vermelho telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan keamanan, menggunakan drone untuk menembakkan bahan peledak ke arah polisi. Namun video tersebut belum dapat terverifikasi.
Menaikkan pamor
Ketika ditantang para jurnalis tentang pernyataannya sebelumnya, yang menyebut mereka yang tewas terbunuh sebagai “penjahat”, gubernur Castro berkilah aparat polisi yang melakukannya.

“Sejujurnya, konflik itu tidak terjadi di daerah pemukiman, melainkan di hutan. Jadi, saya rasa tidak ada yang sekadar berjalan-jalan di hutan pada hari konflik. Dan itulah mengapa kita dapat dengan mudah mengklasifikasikan mereka”, katanya memberi alasan.
Operasi tersebut dilakukan saat kota tersebut bersiap menjadi tuan rumah serangkaian acara internasional menjelang pertemuan puncak COP30 yang akan diadakan di Belém pada bulan November.
Minggu depan, Rio akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak wali kota sedunia C40 serta upacara penganugerahan Penghargaan Earthshot Pangeran William dari Inggris.
Sebelumnya polisi Brazil juga pernah melakukan operasi berskala besar di Rio menjelang acara internasional termasuk menjelang kunjungan Paus Benediktus tahun 2011, Piala Dunia 2014, dan Olimpiade 2016.
Namun para jurnalis menilai, operasi kali ini merupakan bagian dari upaya Gubernur Castro untuk menaikkan pamornya menjelang pemilihan umum tahun depan.(P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














