Presiden Rusia Putin dituding pura-pura ingin damai dengan Ukraina

Terkait

PRIORITAS, 3/12/25 (Brussel): Para pemimpin Eropa menuduh Presiden Rusia, Vladimir Putin, hanya  berpura-pura tertarik pada upaya perdamaian dengan Ukraina.

Terbukti setelah bertemu selama lima jam dengan para utusan khusus Presiden AS Donald Trump di Moskow, hanya berakhir tanpa ada hasil.

Putin bertemu Selasa malam di Moskow dengan utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner.

Pertemuan tersebut merupakan langkah lanjutan dalam upaya AS, untuk menengahi kesepakatan damai perang Rusia-Ukraina, yang belum tercapai sejak Trump kembali menjabat pada Januari lalu.

Sejumlah pernyataan yang diperoleh BeritaTakTikInfo.com.com, hari Rabu (3/12/25), menunjukkan pejabat Ukraina dan Eropa menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin ternyata hanya berpura-pura ingin damai, karena sudah berjam-jam melakukan perundingan dengan utusan AS di Kremlin,  tidak membuahkan tanda-tanda terobosan.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan Putin harus berhenti membuang-buang waktu dunia.

Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, melihat Putin tidak mengubah arah apa pun. Dia semakin agresif di medan perang. “Jelas sekali dia tidak menginginkan perdamaian apa pun”, kata Tsahkna.

Menteri Luar Negeri Finlandia, Elina Valtonen, menyampaikan hal serupa. “Sejauh ini kami belum melihat konsesi apa pun dari pihak agresor, yaitu Rusia, dan saya pikir langkah terbaik untuk membangun kepercayaan adalah memulai dengan gencatan senjata penuh,” ujarnya.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan pemimpin Rusia itu harus mengakhiri kegaduhan dan pertumpahan darah.

“Putin harus siap berunding dan mendukung perdamaian yang adil dan abadi bagi Ukraina dan demi kepentingan keamanan Eropa”, tekannya.

Satu rintangan utama

Pihak Rusia dan Amerika sepakat untuk tidak mengungkapkan substansi pembicaraan yang hanya disebt pembahasan 28 poin perdamaian dengan Ukraina.

Setidaknya ada satu rintangan utama bagi penyelesaian damai antara Rusia dan Ukraina, yakni Putin tidak ingin menyerahkan kembali sejumlah wilayah Ukraina yang direbut sejak invasi Februari 2022.

Penasihat senior Putin, Yuri Ushakov, mengatakan kepada wartawan sejauh ini, belum ada kompromi yang ditemukan  terkait masalah wilayah. “Tidak ada resolusi untuk krisis ini”, katanya.

Sampai kini Ukraina juga telah mengesampingkan kemungkinan menyerahkan wilayah yang telah direbut Rusia.

Ushakov berkilah dengan menyebut percakapan dengan pejabat Amerika tersebut sebenarnya ada kemajuan. “Cukup bermanfaat, konstruktif, dan cukup substantif,” ujarnya.

Namun ia mengarisbawahi masalah yang dibahas dalam pertemuan adalah kerangka proposal perdamaian AS, bukan “rumusan spesifik”.

Bantu senjata Ukraina

Menjelang perundingan tersebut, Presiden Putin menyampaikan kritik pedas terhadap peran Eropa dalam negosiasi tersebut.

Ia menuduh negara-negara di benua itu ingin menyabotase kesepakatan. Ia bahkan mengancam ingin melawan Eropa. “Jika Eropa tiba-tiba ingin berperang dengan kami dan memulainya, kami siap segera”, katanya, seperti dilaporkan media The Independent.

Komentar Putin itu membuat ketegangan tetap tinggi atas upaya menghentikan perang dengan Ukraina yang sudah berlangsung hampir empat tahun.

Para menteri luar negeri dari negara-negara NATO Eropa, yang bertemu di Brussels, menunjukkan sedikit kesabaran terhadap Rusia.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengungkapkan negara-negara Eropa akan terus mengirimkan bantuan militer untuk Ukraina, demi memastikan tekanan terhadap Rusia dipertahankan.

Ia menyambut positif proses perundingan damai Rusia-Ukraina yang  sedang berlangsung.

Namun di saat yang sama tetap ada keraguan terhadap niat Putin, yang diduga masih tetap ingin melanjutkan perang.

“Kita belum yakin kapan perang akan berakhir. Ukraina harus berada di posisi terkuat untuk melanjutkan pertempuran, untuk melawan Rusia. Tetapi juga berada di posisi terkuat ketika perundingan damai benar-benar mencapai titik di mana mereka duduk bersama,” jelas Rutte.

Kanada, Jerman, Polandia, dan Belanda mengumumkan mereka akan menghabiskan ratusan juta dolar lagi bersama-sama untuk membeli senjata AS untuk disumbangkan ke Ukraina.

Pada bulan Agustus, sekutu Eropa di NATO mulai membeli senjata Amerika untuk Ukraina, berdasarkan Daftar Persyaratan Ukraina yang DiTakTikInfo.comkan (PURL).(P-Jeffry W)

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini