PRIORITAS, 4/10/25 (Tokyo): Mantan menteri keamanan ekonomi, Sanae Takaichi (64 tahun), hampir pasti menjadi Perdana Menteri wanita pertama di Jepang, setelah ia pada hari Sabtu terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP).
Dengan posisi sebagai ketua LDP, otomatis Sanae yang disebut sebagai anggota konservatif garis keras, berada di jalur strategis untuk menjadi PM Jepang yang baru.
Ini merupakan tonggak sejarah di negara ‘samurai’ di mana wanita kurang terwakili dalam politik.
Takaichi memperoleh 185 suara melawan 156 suara milik Koizumi dalam putaran kedua pemilihan ketua partai LDP, partai yang berkuasa saat ini di Jepang.
Takaichi juga menang 149 suara anggota parlemen dan 36 suara cabang LDP, melampaui perolehan Koizumi yang hanya memperoleh 145 suara dari anggota parlemen dan 11 suara dari cabang prefektur.
Ini merupakan pencalonan ketiganya untuk kepemimpinan partai.
“Saya merasakan betapa sulitnya hal ini ke depannya, alih-alih merasa senang,” kata Takaichi, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Japan Times, hari Sabtu (4/10/25).
Ia berhadap mendapat dukungan dari semua anggota partainya, agar bisa kembali membangun kembali partai LDP yang sempat terpuruk dalam pemilihan di parlemen bulan lalu.
Rangkul oposisi
Pada konferensi pers, Takaichi menyinggung kemungkinan memperluas koalisi yang berkuasa.
Mitra baru perlu sepakat dengan LDP mengenai isu-isu mendasar, termasuk revisi konstitusi, diplomasi, dan kebijakan fiskal.
Mengenai posisi-posisi kunci partai, Takaichi mengatakan ia bertujuan untuk melibatkan semua orang dan dari semua generasi, termasuk merangkul para pesaing (oposisi) dalam pemilu. Ini bertujuan untuk memperbaiki partai yang terpecah belah.
Sidang luar biasa parlemen Jepang (Diet) untuk memilih Perdana Menteri diperkirakan akan diadakan pada pertengahan Oktober 2025 ini.
Jika terpilih sebagai Perdana Menteri, Sanae Takaichi akan menjalani sisa masa jabatan tiga tahun Perdana Menteri Shigeru Ishiba hingga September 2027.
Ishiba sendiri mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri pada September 2025 lalu.
Setelah terpilih menjadi Perdana Menteri ke 104, Takaichi akan menghadapi parlemen di mana koalisi LDP-Komeito akan membutuhkan kerja sama oposisi untuk meloloskan undang-undang.
Pengalaman di parlemen
Ia juga perlu segera mempercepat penyelesaian di bidang diplomatik, dengan Tokyo dan Washington.
Hal itu untuk mengoordinasikan kemungkinan pertemuan bilateral antara perdana menteri baru dan Presiden AS Donald Trump akhir bulan ini.
Takaichi kini masih tercatat sebagai anggota parlemen (DPR) mewakili daerah pemilihan No. 2 Nara. Ia memiliki lebih dari 30 tahun pengalaman di parlemen.
Sebagai anak didik mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, ia telah menjabat di beberapa jabatan penting baik di dalam partai maupun di Kabinet.
Dari tahun 2022 hingga 2024, ia menjabat sebagai Menteri Keamanan Ekonomi Jepang.
Ia juga memegang rekor sebagai Menteri Dalam Negeri dengan masa jabatan terlama, sebuah jabatan yang pernah dijabatnya selama beberapa periode.
Takaichi telah lama menjadi ikon sayap konservatif LDP, yang memperjuangkan isu-isu seperti belanja tinggi pemerintah, pendekatan agresif terhadap China serta anggaran pertahanan yang besar. (P-Jeffry W)














