PRIORITAS, 8/9/25 (Tel Aviv): Israel Defense Forces (IDF) atau Pasukan Pertahanan Israel, mengumumkan Gideon’s Chariots II Operation (Operasi Kereta Perang Gideon 2) untuk menaklukan Kota Gaza telah dimulai.
Operasi ini bertujuan untuk memusnahkan markas besar terakhir militan Hamas di Kota Gaza. Diperkirakan masih ada sekitar 10.000 hingga 15.000 anggota militan Hamas yang bertahan di berbagai gedung dan terowongan bawah tanah di kota itu.
Militer Israel sudah menyebarkan pengumuman yang menginstruksikan sekitar 1 juta penduduk kota itu, agar segera mengungsi, sepekan sebelum serangan besar-besaran dilakukan.
Militer Israel menyebut pengeboman dan penghancuran gedung-gedung tinggi, adalah serangan pembuka operasi di Kota Gaza itu.
Israel mengakui serangan awal tujuannya adalah untuk merusak infrastruktur militan Hamas, terutama terowongan. Demikian seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Ynetnews, hari Senin (8/9/25).

Pasukan Israel juga secara diam-diam melakukan deteksi untuk menemukan teroris, yang coba berbaur dengan warga sipil dalam melarikan diri dari serangan militer di Kota Gaza.
Manuver darat militer Israel di Kota Gaza memang menyasar lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai pos-pos militan Hamas untuk pengawasan.
Pasukan Israel akan bergerak maju ke wilayah-wilayah yang belum pernah didatangi selama lebih dari setahun.
Kamera pengintai
Menurut Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, operasi penyerangan untuk merebut Kota Gaza sepenuhnya dapat berlangsung hingga satu tahun, terutama karena sistem terowongan militan Hamas yang ekstensif di bawah Kota Gaza dan keberadaan sandera Israel yang diyakini ditawan di sana.
Operasi tersebut efektif sudah dimulai dengan serangan udara preemptif menghancurkan ratusan kamera pengintai milik militan Hamas.
Militer Israel juga mengebom sarang penembak jitu dan posisi rudal anti-tank militan Hamas, yang terletak di lantai atas gedung-gedung di Kota Gaza, seperti Sheikh Ajlin, Sabra, dan Rimal di pusat dan barat Kota Gaza.
“Meskipun telah berperang selama hampir dua tahun, militan Hamas masih menyembunyikan peralatan pengintaian yang mereka peroleh dengan cara diselundupkan dari perbatasan”, ungkap para pejabat Israel kepada media Yedioth Ahronoth dan Ynet.
Militer Israel melakukan penghancuran gedung-gedung di Kota Gaza menggunakan amunisi presisi khusus, untuk mencegah warga Palestina yang berlindung di tenda-tenda terdekat tidak menjadi korban.

Militan Hamas diketahui sengaja melarang warga sipil keluar mengungsi dari Kota Gaza, karena untuk menjadi tameng melindungi posisi pertahanan mereka dari serangan Israel.
Saat ini militer Israel sudah menyiapkan lokasi pengungsian lebih jauh ke selatan, di dekat Khan Younis, dilengkapi dengan air, makanan, tempat berlindung dan fasilitas medis bagi para warga sipil yang melarikan diri dari Kota Gaza.
Desakan AS
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui ia mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mendesak untuk bergerak cepat melumpuhkan militan Hamas.
Para komandan tempur pasukan Israel yakin pengambilalihan Kota Gaza mungkin hanya membutuhkan satu atau dua minggu — bahkan mungkin hanya beberapa hari — untuk menjangkau daerah-daerah terpencil seperti Shifa, rumah sakit Indonesia dan Turki, hingga ke pesisir pantai Gaza.
Israel mengakui tantangan yang jauh lebih besar adalah menemukan dan menghancurkan infrastruktur bawah tanah strategis militan Hamas.
Militan Hamas diketahui telah membangun terowongan berbenteng sepanjang beberapa kilometer, yang beberapa di antaranya diyakini IDF mungkin menampung para sandera Israel.
Intelijen militer Israel juga menilai militan Hamas akan mencoba memindahkan tawanan tambahan ke Kota Gaza.
IDF memperkirakan militan Hamas akan mempertahankan strategi sama, yang diadopsi pemimpin mereka Yahya Sinwar pada November 2023, setelah Hizbullah di Libanon menolak bergabung dalam perang.
Berbaur dengan pengungsi
Militer Israel mendeteksi militan Hamas akan menggunakan pengungsian massal warga sipil, sebagai kedok untuk merelokasi para angota mereka melarikan diri.
Hampir 10.000 anggota Hamas bersenjata diperkirakan akan melarikan diri ke selatan berbaur bersama warga sipil selama serangan Israel ke Kota Gaza.
Para komandan Israel mempertimbangkan untuk menyaring konvoi-konvoi pengungsi, guna mencegat teroris.
“Kami hanya mencoba ini di area-area kecil, seperti saat pengepungan rumah sakit atau kamp pengungsi,” jelas para perwira.
Pasukan Israel mengantisipasi militan Hamas memanfaatkan situasi pengungsian massal.
Ada dugaan jika militer memperlambat proses dengan pemeriksaan ketat, militan Hamas akan mengirim pelaku bom bunuh diri atau orang-orang bersenjata ke kerumunan, untuk membuat kekacauan dan korban jiwa akan jauh lebih parah.

IDF mengakui salahsatu tujuan operasi Chariots of Gideon II, memang untuk merusak semua infrastruktur militan Hamas di Kota Gaza — di atas dan di bawah tanah — seperti halnya penghancuran yang dilakukan di Rafah utara dan sebagian Khan Younis selama operasi Gideon’s Chariots I.
“Begitu kita melucuti militan Hamas dari lebih banyak terowongan dan bangunan di atasnya, para pejuangnya akan lebih rentan, para komandannya akan kesulitan bertahan hidup, dan ini juga akan memengaruhi masalah penyanderaan,” kata juru bicara IDF.
Saat ini, jika militan Hamas ingin memindahkan sandera dari Gaza tengah ke utara, mereka harus membawa mereka ke atas tanah, karena militer Israel telah memotong terowongan utama lintas Gaza di bawah koridor Netzarim.
Sulit sandera bisa selamat
Meskipun ada tekanan politik untuk bertindak cepat, Kepala Staf IDF Jenderal Eyal Zamir, telah menginstruksikan para komandan untuk memTakTikInfo.comkan keselamatan prajurit daripada kecepatan, terutama di area-area tempat para sandera mungkin ditawan.
Ia mengatakan kepada para pemimpin politik Israel, tidak ada jaminan para tawanan di Kota Gaza akan selamat dari serangan tersebut. “Kita tidak dapat memprediksi bagaimana teroris Hamas akan memperlakukan mereka dalam beberapa bulan mendatang,” ungkapnya memperingatkan.
Beberapa politisi menggambarkan operasi ini sebagai “penaklukan Kota Gaza”, namun para pejabat menekankan operasi ini lebih menyerupai pengepungan dan pengambilalihan operasional jangka panjang. Kota Gaza akan dibagi menjadi beberapa sektor dan dikuasai selama berbulan-bulan.(P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














