Lebanon ingin damai dengan Israel, tapi Hizbullah menentang

Terkait

PRIORITAS, 6/12/25 (Beirut): Presiden Lebanon, Joseph Aoun, ingin berdamai dengan Israel, namun kelompok bersenjata Hizbullah menentang dan menyebut usaha tersebut adalah sebuah kesalahan.

Presiden Aoun sudah membahas rencana damai tersebut bersama delegasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) dalam pertemuan di Istana Kepresidenan di Baabda, timur Beirut, Lebanon, 5 Desember 2025.

Presiden Lebanon membela keputusannya untuk memperluas perundingan damai dengan Israel, sebagai cara untuk menghindari kekerasan lebih lanjut.

Israel dan Lebanon sama-sama mengirim utusan sipil ke komite militer, yang memantau gencatan senjata mereka.

Ini bagian dari langkah menuju tuntutan AS selama berbulan-bulan, agar kedua negara memperluas perundingan sejalan dengan agenda perdamaian Timur Tengah dari Presiden Donald Trump.

“Kami telah mengadopsi opsi negosiasi dengan Israel dan tidak ada jalan kembali,” tegas Presiden Joseph Aoun kepada perwakilan DK-PBB, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Asharq Al Awsat, hari Sabtu (6/12/25).

Presiden Aoun mengungkapkan, negosiasi ini terutama bertujuan untuk menghentikan tindakan permusuhan, yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon.

Selain itu untuk mengamankan pemulangan para tawanan, menjadwalkan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki.

Negosiasi juga bertujuan menyelesaikan titik-titik sengketa di sepanjang Garis Biru, merujuk pada garis yang dipetakan PBB untuk memisahkan Israel dari Lebanon.

Dikritik Hizbullah

Kelompok bersenjata Hizbullah yang berada di Lebanon yang dipimpin Sheikh Naim Qassem, menentang upaya damai dengan Israel itu. Ia malah menyebutnya sebagai kesalahan besar.

Qassem mendesak pemerintah Lebanon untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

“Anda menawarkan konsesi gratis yang tidak akan mengubah apa pun dalam posisi musuh (Israel) atau serangannya,” kata Qassem.

Lebanon dan Israel secara resmi telah bermusuhan selama lebih dari 70 tahun.

Pertemuan antara pejabat sipil kedua negara itu sangat jarang terjadi sepanjang sejarah mereka yang penuh ketegangan.

Pada tahun lalu, pejabat militer Israel dan Lebanon telah bertemu dalam sebuah komite, yang diketuai Amerika Serikat, untuk memantau gencatan senjata tahun 2024 mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran.

Selama periode tersebut, Israel tetap melancarkan serangan udara terhadap posisi markas Hizbullah, karena  mereka kembali mempersenjatai diri dan  melanggar gencatan senjata.

Tetapi Lebanon menyatakan serangan tersebut dan pendudukan Israel atas wilayah Lebanon selatan, merupakan pelanggaran gencatan senjata.

Ada Kekhawatiran berkembang di Lebanon, pasukan Israel akan kembali melakukan serangan udara besar untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah Lebanon,  agar melucuti senjata Hizbullah lebih cepat.

Namun Hizbullah menolak untuk menyerahkan senjata sepenuhnya dan telah mengemukakan kemungkinan terjadinya pertikaian internal jika negara mencoba melawannya.

Dukungan Iran

Hizbullah semula adalah hanyalah kelompok kecil kaum Islam syiah di Lebanon.

Menurut BBC News, cikal bakal Hizbullah bermula setelah Israel menginvasi Lebanon selatan, sebagai respons terhadap serangan militan Palestina pada 1982.

Ketika itu, para pemimpin Syiah mendukung respons milisi memisahkan diri dari gerakan Amal yang terkemuka.

Organisasi baru itu kemudian berdiri dengan nama Islamic Amal, yang mendapat dukungan militer Garda Revolusi Iran yang berbasis di Lembah Bekaa.

Mereka kemudian muncul sebagai milisi Syiah dan membentuk Hizbullah. Hassan Nasrallah adalah ulama Syiah yang telah memimpin Hizbullah sejak 1992.

Ia memiliki hubungan dekat dengan Iran dan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei saat itu.

Hubungan ini dimulai pada 1981, ketika Pemimpin Tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengangkatnya sebagai wakil pribadinya di Lebanon.

Dengan sokongan dana dan suplai peralatan militer dari Iran, Nasrallah memainkan peran kunci dalam mengubah organisasi ini menjadi kekuatan politik dan militer baru di Lebanon.

Organisasi teroris

Nasrallah dan Hizbullahnya terlibat membantu melatih militan Hamas dan kelompok milisi lain di Irak dan Houthi Yaman yang sering membuat teror.

Karena selalu melakukan teror dan membunuh,  negara-negara Barat, Israel, negara-negara Teluk Arab, dan Liga Arab akhirnya menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris.

Hassan Nasrallah mengeklaim memiliki 100.000 orang pasukan, meskipun perkiraan independen bervariasi antara 20.000 dan 50.000.

Pada tahun 1992, untuk pertama kalinya Hizbullah berhasil berpartisipasi dalam pemilu nasional Lebanon.

Nasrallah tak terlihat di depan publik selama bertahun-tahun, karena kekhawatiran akan dibunuh Israel.

Namun pada Sabtu, (28/09/2024) militer Israel behasil membunuh Nasrallah dalam sebuah serangan di Beirut, Lebanon.

Kematian Hassan Nasrallah menjadi pukulan telak bagi Hizbullah, yang selama beberapa waktu terakhir mendapat serangan bertubi-tubi dari Israel.

Struktur komandonya kini berantakan dengan lebih dari belasan komandan tinggi tewas dalam serangan militer Israel.

Komunikasi Hizbullah telah disabotase dengan ledakan pager dan walkie-talkie dan banyak gudang senjata Hizbullah menjadi sasaran serangan udara Israel selama sepekan terakhir.

Analis keamanan Timur Tengah yang berbasis di AS, Mohammed Al-Basha, mengatakan kematian Hassan Nasrallah memiliki implikasi signifikan terhadap Hizbullah.(P-Jeffry W)

Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com

Viral

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Headline News

spot_img

Terkini