PRIORITAS, 16/10/25 (Jakarta): Para petani hari ini memperingati Hari Pangan Sedunia tahun 2025 dengan menggelar aksi di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/10/25).
Seruan yang diusung dalam aksi ini adalah menyoroti revisi Undang-Undang (UU) Pangan No 18/2012 yang sedang berlangsung di DPR RI. Petani menuntut revisi ini harus mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
Menurut Ketua Pelaksana Peringatan Hari Pangan Sedunia Serikat Petani Indonesia (SPI) Angga Fajar, aksi nasional Hari Pangan Sedunia 2025 digelar di berbagai daerah di Indonesia, dengan pusat di Jakarta.
Juga, kata dia, digelar serangkaian agenda dialog Hari Pangan Sedunia 2025, serta mobilisasi massa dan kampanye kedaulatan pangan dengan menolak kehadiran korporasi pangan internasional dalam urusan pangan dan pertanian di RI.
“Berdasarkan laporan Global Hunger Index (GHI) tahun 2025, Indonesia tercatat menduduki peringkat 70 dalam indeks kelaparan global. Dalam laporan tersebut, Indonesia meraih skor 14,6 yang berarti Indonesia berada di tingkat kelaparan sedang,” jelas Angga dalam keterangannya.
Sebagaimana data itu, sambungnya, menempatkan Indonesia berada di taraf yang cukup tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Vietnam (11,1), Filipina (13,4), dan Thailand (9,7).
“Dua faktor yang memengaruhi tingginya angka kelaparan di Indonesia adalah 22,6 persen anak-anak di bawah lima tahun mengalami stunting dan 8,6 persen anak-anak di bawah lima tahun mengalami kekurangan gizi,” tambahnya.
“Hal itu diakibatkan oleh penguasaan atas tanah subur dan hutan hujan dikuasai korporasi besar untuk komoditas ekspor dan proyek skala besar seperti food estate, perkebunan kelapa sawit, perkebunan kayu (hutan industri). Di sisi lain petani Indonesia adalah petani gurem dengan lahan kurang dari 0,5 hektare (ha), jumlahnya diperkirakan lebih dari 16 juta jiwa.
Indeks Gini sebesar 0,58, sebuah ketimpangan yang sangat besar,” urai Angga.
Apalagi, imbuh dia, terjadi peningkatan ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan.
“Data BPS menunjukkan, sepanjang 2017-2024, impor beras, kedelai, dan gula terus mengalami peningkatan baik dari segi volume maupun nilai. Impor beras melonjak tajam hingga mencapai 4,5 juta ton pada 2024, dengan Thailand dan Vietnam sebagai pemasok utama. Kedelai yang menjadi bahan baku utama pangan rakyat, seperti tempe dan tahu, juga berada di angka 2,6 juta ton per tahun dan didominasi dari Amerika Serikat,” tukasnya.
“Lonjakan impor ini mencerminkan lemahnya kedaulatan pangan nasional, di mana kebutuhan pokok rakyat justru semakin bergantung pada pasar global, sementara petani kecil di dalam negeri masih berjuang di tengah keterbatasan lahan dan kebijakan yang belum berpihak,” katanya. (P-*r/am)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














