PRIORITAS, 21/9/25 (Den Haag): Unjukrasa anti imigran di Den Haag, Belanda, pecah menjadi kerusuhan. Demonstran membakar mobil polisi dan gedung partai politik D66 di pusat kota.
Seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Dutch News, hari Minggu (21/9/25), masalah dimulai ketika sekelompok sekitar 1.500 pengunjuk rasa memblokade jalan tol A12.
Mereka mengabaikan imbauan dari penyelenggara untuk tidak melakukan kerusuhan atau pengrusakan.
Para demonstran malah bentrok dengan polisi di Malieveld, melemparkan batu dan botol, serta membakar mobil polisi.
Seorang fotografer pers yang meliput protes tersebut dibawa ke rumah sakit setelah terkena pukulan di wajahnya.
Satu kelompok memisahkan diri sekitar pukul 3 sore dan menuju ke kompleks parlemen Binnenhof, yang sementara direnovasi. Mereka terlibat dalam baku hantam dengan polisi anti huru hara.
Beberapa di antara pengunjukrasa yang hadir menunjukkan simbol-simbol sayap kanan seperti prinsjesvlag cikal bakal bendera nasional Belanda dengan garis oranye.
Simbol bendera itu dikaitkan dengan partai Nazi Belanda (NSB) sebelum perang.
Tindakan gila
Polisi terpaksa menggunakan gas air mata untuk mengusir para pengunjuk rasa yang melakukan pengrusakan.
Sejumlah pengunjukrasa terlihat ditangkap, tetapi polisi tidak memberikan jumlah pasti. Beberapa petugas polisi juga terluka.
Pemimpin serikat polisi NP, Nine Kooiman, mengecam kejadian tersebut sebagai tindakan gila.
“Kita tidak akan pernah membiarkan negara kita yang hebat dibajak oleh perusuh ekstremis,” kata pemimpin partai D66, Rob Jetten.
Jetten menilai sangat mengerikan melihat para perusuh ini menyerang polisi, membakar, dan mengibarkan prinsjesvlag, simbol NSB.
Demonstrasi tersebut diorganisir seorang komentator media sosial, yang menyebut dirinya Els Rechts.
Mereka memang mendesak pemerintah agar memberlakukan kontrol imigrasi dan suaka lebih ketat, karena semakin banyak pendatang dari luar negeri yang menetap dan bisa menjadi masalah bagi Belanda.
Kepada stasiun media lokal Omroep West, ia tidak setuju ada pengunjukrasa melakukan kekerasan atau sengaja membuat kekacauan.
“Sangat disayangkan bahwa sekelompok kecil demonstran tidak dapat berperilaku baik,” katanya.
Ia menyesal dan mengaku tidak akan pernah mengorganisir protes tersebut, jika tahu akan mengarah pada kekerasan.
Hukuman berat
Menteri Kehakiman sementara, Foort van Oosten mengatakan penggunaan kekerasan terhadap polisi sama sekali tidak dapat diterima.
“Hak untuk berdemonstrasi merupakan bagian penting dari kehidupan di Belanda, tapi jangan sentuh petugas polisi kami,” tegasnya.
Frans Timmermans, pemimpin aliansi sayap kiri GL-PvdA , menggambarkan kerusuhan tersebut sebagai adegan Trumpian dipicu politisi yang menyebarkan ketakutan dan perpecahan.
Politisi sayap kanan juga mengutuk para perusuh, dengan Geert Wilders, pemimpin partai sayap kanan PVV, menyerukan agar “sampah” (perusuh) itu dihukum berat.
“Pastikan mereka ditangkap, diberi hukuman berat dan dipaksa membayar semua kerusakan’, kata Dilan Yesilgöz dari VVD (P-Jeffry W)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














